Sering Punya Ide tapi Bingung Bagaimana Mengolahnya Jadi Tulisan? Yuk, Kenali 4 Langkah Ini!

Setiap penulis tentu nggak akan bisa menulis tanpa adanya ide. Namun, ternyata memiliki ide pun nggak lantas membuat proses menulis menjadi gampang. Ide menulis selayak bahan-bahan mentah yang menunggu diolah. Butuh proses yang cermat agar bahan-bahan tersebut bisa berubah menjadi sebuah artikel yang disukai pembaca.

Nah, apabila kamu adalah seorang penulis kreatif yang sering mendapatkan ide menulis namun kesulitan untuk mengolahnya, jangan berkecil hati dulu! Yuk,coba baca ulasan di bawah, agar kamu mendapat gambaran beberapa langkah jitu dalam mengolah ide menjadi tulisan.

1. Menyiapkan Ide yang Jadi Bahan Utama

“Bagaimana mau mengembangkan ide, kalau idenya saja jarang ada?” Mungkin masih banyak blogger yang berpikir seperti itu saat membaca artikel ini. Memang, jika kamu hanya pasif dan menunggu ide saja, maka akan sedikit ide brilian yang muncul. Jadi, kamu memang harus aktif mencari ide. Kamu harus berburu ide dan inspirasi yang menurutmu layak untuk diulas.

Ada banyak cara untuk berburu ide menulis. Kamu bisa menyalakan televisi dan menonton acara berita untuk menangkap keresahan sosial yang sedang terjadi saat ini. Kamu bisa memantau linimasa media sosialmu untuk memahami topik apa yang sedang hangat diperbincangkan sekarang. Atau, kamu bisa blogwalking untuk mencari artikel inspiratif, lalu mengolahnya ulang dengan gaya dan sudut pandangmu sendiri. Jadi, jangan cuma nunggu!

2. Menentukan Pesan yang Menjadi Rasa Dominan

Setelah kamu menemukan ide yang menurutmu menarik, kamu harus menentukan pesan apa yang ingin kamu sampaikan dan kenapa pembacamu perlu tahu soal pesan itu. Kalau kamu sendiri belum bisa menjelaskan apa manfaat dan urgensi dari artikelmu sendiri, ya jangan heran kalau pembacamu pun juga akan malas membacanya.

Artikel informatif adalah artikel yang memiliki pesan yang jelas, dan berhasil membuat pembacanya merasa tercerahkan. Tanpa memiliki pesan yang menjadi ide pokok, tulisanmu bisa jadi hanya ngalor-ngidul tapi nggak mengandung informasi yang bergizi bagi pembaca. Bukanya penuh citarasa, bisa jadi artikelmu malah dianggap hambar oleh pembaca.

Baca juga: Belajar 6 Prinsip Self-Editing

3. Olah Adonan dengan Outline yang Rapi

Masakan yang enak tentu memiliki takaran yang pas. Jika terlalu banyak garam maka makanan akan terlalu asin, api terlalu besar bisa membuat kematangan nggak optimal. Begitu juga saat meramu sebuah artikel. Kamu harus memiliki takaran yang tepat agar kamu nggak kelewat batas. Itulah kenapa outline menjadi penting.

Dengan punya outline, kamu jadi memiliki pedoman sehingga bahasanmu nggak keluar jalur. Pastikan juga kamu mengaplikasikan 5W+1H agar kamu bisa menjamin gizi yang ada dalam artikelmu. Dengan menulis berdasar outline yang jelas dan terstruktur, dijamin artikelmu nggak akan keasinan atau pun kurang matang.

4. Tambahkan Referensi sebelum Disajikan

Ketika kamu sudah menyelasaikan draft artikelmu, ada baiknya artikel terseut jangan langsung kamu hidangkan. Akan lebih baik jika kamu menutup sebentar draft tersebut, lalu membaca-baca beberapa artikel atau referensi yang mengulas soal isu terkait. Harapannya, kamu akan mendapat ide atau sudut pandang baru yang akan mempertajam citarasa artikelmu.

Setelah membaca beberapa referensi, buka kembali artikelmu lalu lakukan penyuntingan untuk memastikan artikelmu memang sudah siap disajikan. Jangan ragu untuk menambahkan informasi dari referensi barumu jika memang kamu rasa perlu untuk diketahui pembaca. Dengan begitu, artikelmu akan lebih matang dan semakin layak untuk disantap oleh pembaca.


Ide yang brilian akan terasa hambar jika nggak diolah dengan benar. Sebaliknya, ide sederhana bisa dimasak menjadi artikel yang lezat di tangan penulis yang jeli. Untuk itu, dibutuhkan ketekunan dan latihan yang berulang-ulang agar kamu bisa menjadi seorang pengolah ide yang handal.

Memang, mengolah ide menulis bisa jadi proses belajar akan menjadi rutinitas yang membosankan. Namun hal itu nggak seberapa dibanding besarnya apresiasi yang akan kamu terima ketika artikel karyamu dianggap informatif dan disukai banyak orang. Apalagi ketika orang-orang sampai mengajak temannya untuk mencicipi karya-karyamu, tentu kamu akan lebih bersemangat dan tertantang untuk menghasilkan artikel yang lebih hebat lagi. Jadi, mari menikmati proses mengolah ide dan tetap berusaha menyajikan artikel yang bermanfaat!

Sumber: Nola, Food & Nutrition, Mark Timm, The Star.

Related Posts

Site Menu