Angie

Angela Richardson: Menjadikan Kegiatan Menulis untuk Menyampaikan Pesan Berharga Bagi Pembacanya

Banyak hal yang bisa kamu lakukan dengan menulis, mulai dari menjadi blogger, jurnalis, penulis novel dan cerpen, dan masih banyak lagi. Bahkan, menulis bisa menjadi kegiatan pendukung dari hal yang kamu sukai. Misalnya jika kamu hobi memasak, kamu bisa menerbitkan buku-buku resep. Jika kamu penyuka film, kamu bisa berbagi review untuk penggemar-penggemar lain di luar sana. Jika kamu peduli dengan kesejahteraan hewan, kamu bisa mempublikasikan tulisan-tulisan untuk meningkatkan awareness masyarakat untuk peduli binatang.

Tapi, nggak semua orang yang berkecimpung dengan hal tulis-menulis bisa menyesuaikan aktivitas ini dengan beragam kegiatan lain yang memenuhi jadwal sehari-harinya. Kadang, kamu perlu menemukan driving force tersendiri untuk memotivasimu agar bisa terus berkarya di tengah padatnya kegiatan harian dan sederet tuntutan hidup lainnya. Nah, jika kamu sudah menemukannya, niscaya kamu akan terus berupaya untuk menyempatkan diri menulis karya-karya bermanfaat sebab kamu merasa memiliki dasar dari tujuan yang ingin kamu capai.

Sehubungan dengan ini, C2live ingin berbagi kisah tentang seorang penulis andal yang bisa terus maju dan berkarya karena sebuah motivasi yang menguatkan dirinya. Bahkan, ia mampu menghasilkan berbagai tulisan memukau bagi berbagai media di tengah segala kesibukan yang ia miliki. Kira-kira, siapa ya orangnya dan seperti apa kisahnya? Yuk, langsung kita simak bersama!

Angela Richardson, Sosok Penulis dan Jurnalis Andal dengan Karya Memukau

Angie

Angela Richardson biasa disapa sebagai Angie. Ia adalah seorang jurnalis lepas dan juga aktivis lingkungan yang berbasis di kawasan Asia Tenggara. Sehari-hari, ia menjalani aktivitasnya dengan menulis dan menyunting berbagai artikel untuk beberapa media besar, seperti majalah Garuda Colours, South China Morning Post, Indonesia Expat, Inside Indonesia, dan Eco-Business.com. Melihat nama-nama media yang ia layani, nggak heran deh kalau wanita berdarah Inggris-Jawa ini punya pengetahuan yang sangat luas seputar Indonesia.

Nggak cuma itu, wanita cantik ini juga merupakan penggagas Clean Up Jakarta Day, sebuah event tahunan yang mengajak komunitas, relawan, atau siapa saja dari berbagai kalangan untuk bersama-sama melakukan gerakan membersihkan Jakarta dari sampah-sampah yang berserakan secara gotong royong.

Di luar kesibukan tersebut, Angie juga gemar bergelut dengan fotografi, serta menjalani peran sebagai ibu dari putrinya yang kini sudah berumur satu tahun. Kebayang nggak seberapa padat kegiatannya sehari-hari?

Yang Dicintai dari Kegiatan Menulis

Angie

Sosok yang sehari-hari disibukkan dengan kegiatan editorial ini mengaku bahwa ia suka menjadi pribadi yang kreatif. Hal itulah yang membawanya terjun ke dunia ini. Menurutnya, menulis merupakan salah satu bentuk kreativitas yang paling natural untuknya. Melalui menulis pula, ia menemukan banyak hal yang ia sukai. Bertemu dengan berbagai narasumber untuk mendapatkan materi artikel merupakan hal yang paling ia sukai dari dunia penulisan. Jika ditanya mengapa, jawabannya adalah karena ia bisa bertemu dengan berbagai pribadi menarik melalui proses ini, mulai dari refugee hingga CEO perusahaan, semuanya memiliki cerita unik untuk dibagikan.

Dari sekian banyak tulisan yang sudah ia buat, Angie mengaku bahwa kebanyakan dari artikel yang ia tulis biasanya berkaitan dengan topik-topik seputar hak asasi manusia, lingkungan, dan travel. Sebab, Angie memiliki passion yang kuat terkait topik HAM dan lingkungan, sehingga ia punya concern lebih seputar isu-isu terkait. Sedangkan untuk travel sendiri, hal ini disbebabkan karena Angie juga merupakan seorang fotografer, sehingga ia gemar mengabadikan momen dan suasana yang ada di berbagai belahan dunia saat travelling. Bahkan, kini ia sedang melibatkan diri dalam sebuah pilot project pembuatan sebuah dokumenter. Terdengar seru, ya!

Motivasi Pendorong dan Visi yang Dibawa

Angie

Kegemarannya untuk menulis membuatnya nggak semata-mata menorehkan kata hanya sebagai sarana penghiburan. Angie menjiwai setiap tulisannya agar dapat menginspirasi siapapun yang membacanya. Menurutnya, hal yang paling penting untuk dilakukan ketika seseorang sedang menulis adalah soal bagaimana si penulis menyampaikan cerita bagi pembaca dengan benar. Benar di sini merujuk pada cara penyampaian dan apa yang disampaikan. Sebab, Angie meyakini bahwa menyajikan keseimbangan dalam sebuah artikel bagi pembaca merupakan hal yang vital. Penulis harus memastikan bahwa ia mengakomodasi tiap sisi yang dilibatkan dari artikel terkait, sehingga artikel yang dilahirkan bersifat adil, tepat, dan faktual.

Sebegitunya mendedikasikan diri untuk tiap tulisan yang dibuatnya, apa sih sebenarnya yang memotivasi Angie untuk terus berbagi cerita inspiratif bagi orang banyak di luar sana? Jawabannya adalah karena Angie selalu ingin menyampaikan pesan penting bagi para pembacanya. Ia ingin agar setiap konten yang ia sajikan memiliki makna tersendiri bagi para pembacanya, atau bahkan mampu untuk menginspirasi mereka agar menjadi pribadi yang lebih baik. Inilah driving force yang dimiliki oleh Angie untuk tetap bertekun dalam dunia penulisan.

Mengetahui hal di atas, nggak heran kalau Angie merasa nggak ada satupun tulisannya yang nggak berkesan. Ia selalu berhasil menemukan hal yang memorable dari tiap proses penulisan yang ia lalui. Namun, salah satu hal yang paling membelalakkan baginya adalah ketika ia mengunjungi sebuah kawasan tempat pembuangan akhir (TPA) terbesar di Indonesia. Kala itu, dia datang dengan tujuan untuk meninjau situasi yang ada untuk membuat tulisan tentang anak-anak yang tinggal dan bersekolah di sana. Namun, walaupun mereka tinggal di lingkungan yang cukup keras, Angie menemukan bahwa anak-anak yang tumbuh besar di sana sangat mengagumkan dan bersahabat.

Di kesempatan lain, Angie juga mengunjungi rumah sederhana dari seorang refugee di Bogor untuk menulis cerita bermakna lainnya. Ketika ia datang, ia dijamu dengan kacang-kacangan dan roti untuk makan siang. Padahal, orang tersebut hampir tidak punya cukup uang untuk memberi makan dirinya sendiri walau hanya untuk sekali dalam satu hari. Kini, refugee tersebut sudah menjadi teman yang akrab dengan Angie dan kekuatan serta kebaikan yang ditunjukannya tak pernah berhenti untuk menginspirasi Angie.

Hal-hal seperti inilah yang membuat Angie sangat bangga menjalani pekerjaan yang ia lakukan hari demi hari, yaitu ketika ia bisa membantu seseorang melalui tulisan yang ia publikasikan. Nggak heran jika memilih untuk tetap bertahan agar dapat terus berkarya di dunia penulisan. Sebab, ia memiliki motivasi dan visi yang terus ia bawa untuk mendorongnya agar tetap bisa menulis bagi orang banyak.

Sedikit Tips Jitu dari Angie

Angie

Menjadi jurnalis bukanlah hal yang mudah. Nggak cuma tinggal comot informasi dari internet, mereka harus terjun ke lapangan untuk menggali first hand information atau bahkan meliput langsung peristiwa yang sedang terjadi. Sebab, sebagai seorang jurnalis profesional, kamu perlu untuk mendapatkan informasi yang validitasnya terjamin dari orang-orang yang benar-benar memahami atau memang terlibat langsung berkenaan dengan topik yang kamu angkat.

Nah, permasalahannya, mencari narasumber itu nggak gampang, apalagi kalau narasumber yang kamu perlukan merupakan orang penting yang nggak mungkin bisa bertemu dengan semabrang orang. Kalaupun ada, belum tentu orang tersebut berkenan. Jika sudah begitu, mungkin kamu akan pusing mengkhawatirkan deadline atau bagaimana jadinya jika tulisanmu berujung setengah rampung.

Karenanya, Angie sangat menyarankan bagi kalian-kalian semua para penulis untuk selalu mempersiapkan diri menghadapi proses wawancara. Menulis seluruh pertanyaan yang perlu disampaikan untuk menjawab permasalahan yang akan diangkat dalam artikel melalui wawancara tentu perlu dilakukan. Tapi, kamu perlu memastikan juga bahwa kamu memiliki akses yang luas untuk menjangkau para narasumber yang kompeten. Makanya Angie menekankan pentingnya membangun relasi dengan orang-orang positif di sekitarmu. Network, network, network! Itu adalah saran utama dari Angie untuk kalian para penulis sejawat.

Selain itu, ia juga menyarankan supaya kalian menyempatkan diri untuk bertemu dan berinteraksi dengan seseorang yang menarik setiap minggu. Ia yakin bahwa kamu akan takjub dengan beragam kesempatan yang bisa kamu dapatkan dengan melakukan hal ini! Jadi, nggak ada salahnya untuk mulai dicoba!


Menekuni suatu bidang secara konsisten untuk waktu yang cukup panjang memang nggak pernah mudah. Akan selalu ada tantangan untuk dihadapi dari waktu ke waktu. Tapi, jika kita punya alasan yang cukup kuat untuk melakukan hal tersebut, niscaya kamu akan menemukan kekuatan tersendiri yang akan terus mendorong kamu untuk tetap berupaya mencapai hal yang kamu inginkan, layaknya sosok Angie yang sudah mau berbagi kisah inspiratif dengan kita semua pada kesempatan kali ini.

Nah, bagaimana dengan kalian, guys? Sudahkah kalian menemukan driving force yang bisa mendorong kalian untuk tetap menulis untuk waktu yang panjang ke depan nanti? Jika belum, coba kembali refleksikan diri dan telaah lagi soal apa yang sebenarnya ingin kamu lakukan dalam kehidupan ini. Siapa tahu, jawabannya bisa seketika membakar semangatmu untuk menjadi pribadi yang lebih berguna untuk masyarakat sekitar. Selamat berusaha!

Sumber: Clean Up Jakarta Day, Angela Richardson.

Sosok Angie tadi sudah membuktikan kalau kaum perempuan bisa sukses berkarya di lingkungan kerja. Punya kisah inspiratif serupa? Yuk, serukan emansipasi wanita dengan berpartisipasi dalam lomba blog “Perempuan Juara dalam Lingkungan Kerja” yang diselenggarakan oleh C2live sekarang juga!

Related Posts

Site Menu