Books Not Bombs

Books Not Bombs: Pejuang Literasi di Cirebon

Saya salah satu blogger yang tergabung dalam komunitas C2live.com

“Gimana caranya agar mereka yang tidak punya buku, mampu mengakses dan membaca buku.”

Hal itulah yang diungkapkan oleh pengelola perpustakaan jalanan Books Not Bombs Cirebon, yakni Wawat Darwati pada saat mengobrol ringan tentang literasi di Indonesia. Dalam obrolan tersebut, ia berharap bahwa Indonesia tidak menjadi negara dengan urutan 60 dai 61 negara yang memiliki minat baca rendah. Data itu merupakan hal yang sangat memberikan motivasi bahwa apa yang mereka lakukan setiap hari di depan masjid, di depan sekolah, atau di alun-alun Gegesik-Cirebon tiap paginya, dapat memberikan sumbangsih yang nyata pada literasi khususnya perihal minat baca di Indonesia.

Literasi memang tidak dibatasi pada kemampuan membaca saja. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), literasi juga diartikan sebagai kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup. Namun, Books Not Bombs menjalankan kegiatan mereka berdasar definisi literasi UNESCO, yakni kemampuan dalam membaca dan menulis. Dengan alasan itu mereka sangat telaten untuk saling berdiskusi dan mengumpulkan buku agar anak-anak, pemuda, bahkan orang tua tidak malu dan mampu membiasakan diri untuk “menyapa” buku.

Perpustakaan serupa yang sering berjuang bersama Books Not Bombs

Perpustakaan jalanan pejuang literasi, Books Not Bombs ini memiliki visi yang jelas, yakni bergerak dari desa untuk mencerdaskan bangsa. Bergerak khususnya dalam meningkatkan minat baca anak muda di Cirebon dan pergerakan mereka dimulai dari Kecamatan Gegesik. Perpustakaan ini terbuka bagi siapa saja yang ingin terlibat. Mereka bergerak sejak 25 juni 2015 dan telah mengumpulkan buku-buku yang didapatkan dari pasar bekas, atau donasi dari pihak lain. Namun, ada juga buku yang didapatkan dari komunitas-komunitas lain yang serupa yang mewadahi semua pergerakan literasi di Indonesia, yakni Pustaka Bergerak Indonesia. Perpustakaan ini dalam tahap bertumbuh sehingga sangat membutuhkan banyak donor buku untuk tetap terus tumbuh. Meski tergolong baru, antusias anak-anak pun begitu bagus. Hal tersebut diungkap Wawat sebagai pengelola Books Not Bombs yakni:

“Perjal (perpustkaan jalanan) ini disambut antusias sama anak-anak bahkan orang tua. Kalau ke SD, biasanya anak-anak sukanya milih buku cerita bergambar. Atau pas di alun-alun, ada anak-anak yang ke situ lalu orang tuanya pun menemani. Jadi tidak hanya anak-anak yang membaca, tapi ibu bapaknya juga ikut membaca. Namun, ya, untuk buku dari perjal Books Not Bombs masih belum banyak, sehingga sering berjuang bareng dengan komunitas lainnya yakni komunitas literasi Cirebon untuk ‘ngelapak’ bareng. Biar banyak dan rame diskusi dan obrolannya.”

Orang tua dan anak yang sedang melihat buku yang dipamerkan oleh literasi Cirebon

Books Not Bombs merupakan perpustakaan jalanan yang menyambangi anak-anak agar mereka mau membaca. Menurut Wawat sebagai pengelola Books Not Bombs:

Kita bawa buku dan menawarkan buku bacaan agar mereka (anak-anak kecil) tidak usah malu. Biasanya ya paling awalnya anak kecil kan liatin buku-buku dengan malu, nanti kalau satu membaca semuanya ikut membaca. Dan mereka ga usah takut buat bayar karena bukunya bisa dipinjam dengan gratis. Dan mereka bisa baca buku yang beda karena biasanya diperpustakaan sekolah kan buku biasanya masih ajeg saja judul-judulnya.”

Antusias siswa SDN 1 Gegesik saat Books Not Bombs singgah

Selain bergerak menjemput pembaca ke sekolah dasar atau sekolah menengah pertama,  jurus yang dilakukan agar membaca menjadi sebuah kebutuhan dan bahkan menjadi sebuah ketenaran, yakni sesuai yang diungkapkan oleh Wawat sebagai pengelola, perpustakaan ini berkolaborasi dengan perpustakaan lainnya agar buku yang ada lebih banyak dan bervariasi jenisnya. Selain itu, dalam kegiatan sebelum membaca, anak-anak sering diminta untuk menggambar lalu mendapatkan hadiah jika mereka menggambar dengan bagus dan selesai. Kegiatan lainnya yakni biasanya mereka memamerkan buku di alun-alun Gegesik pada hari minggu pukul 6 pagi sampai selesai. Lalu pada saat bulan Oktober lalu, Books Not Bombs mengikuti Kalijaga Art Festival di Cirebon dan berkumpul bersama pejuang literasi lain dalam menggelar lapak bukunya. Selain berkolaborasi, Books Not Bombs biasanya menyambangi ke SD di daerah Cirebon, seperti SD N 1 Gegesik dan SD N 2 Gegesik. Kunjungan yang dilakukan oleh Books Not Bombs biasanya pada saat istirahat sehingga anak-anak SD bisa membaca buku bermacam jenisnya. Sambil makan jajan pun tidak apa, asalkan mereka antusias dan bahagia.

“Kalau saya sangat berharap banyak munculnya komunitas kecil seperti ini diseluruh Indonesia. Bayangkan di setiap desa di Indonesia ada perpustakaan jalanan, semakin banyak perpustakaan seperti ini, maka semakin orang-orang jadi akrab dengan buku. Misalnya bapak-bapak kumpul sore sambil diskusi buku dan kopi, atau anak-anak kumpul sore ngobrol tentang buku dongengnya. Kadang hal semacam itu dianggap remeh, bahkan kegiatan seperti ini seperti tidak berarti namun sangat membantu anak gemar membaca. Dan membaca memang kunci awal untuk mencerdaskan bangsa.”

Keseruan saat Kalijaga Art Festival di Cirebon

Menurutnya, dalam perjalanan Books Not Bombs, ada anggapan bahwa kegiatan kecil seperti itu hanya hiburan semata. Namun baginya, hiburan yang sangat edukatif tentunya. Bahkan saat awal berjalan, ada yang menganggap perpustakan ini sebagai penjual buku dan bahkan penculik anak berkedok buku. Hal tersebut menurutnya bisa terjadi karena ada di desa. Masyarakat masih takut dengan adanya hal baru. Namun, menjadi bagian dari pejuang literasi merupakan hal yang istimewa, karena tidak semua orang mampu dan tanggap mengenai isu literasi. Bahkan dengan fakta Indonesia sebagai negara Indonesia yang illiterate pun masyarakat  sangat biasa saja.

Jika teman ingin menjadi pejuang literasi, menurut pengelola Books Not Bombs, kita tidak harus membuat  perpustakaan kota yang di dalam ruangan dengan fasilitas wifinya. Karena biasanya banyak pengunjung perpustakaan yang hanya memanfaatkan wifi untuk “berselancar”. Namun, bisa diawali dengan mengajak teman untuk membaca. Lalu mengajak untuk saling tukar menukar buku, lalu berdonasi buku agar teman lainnya bisa membaca dengan gratis. Semakin sering berdiskusi mengenai buku bacaan, nanti semakin sering bertemu dengan teman yang suka dengan buku. Dari situ, teman bisa memulai perpustakaan dengan teman-teman. Atau jika teman memang mampu membeli buku, teman bisa secara pribadi membuka lapak atau pas jam istirahat datangi sekolah dasar di desa-desa. Pasti mereka sangat antusias dan bahagia.

Dalam perjalanan, Books Not Bombs masih sangat membutuhkan banyak tenaga dan teman teman yang mau berkontribusi nyata untuk literasi Indonesia. Untuk mengubah opini kalau buku itu mahal dan susah untuk didapatkan. Dalam perpustakaan ini buku bisa dipinjam dengan gratis bahkan. Dan merubah opini kalau membaca harus ditempat sepi saja, disini kita bisa membaca bersama di luar ruangan sambil berdiskusi atau bahkan sambil makan jajan. Ia ingin bahwa membaca adalah kegiatan yang sangat asyik yang bisa dilakukan oleh semua orang. Anak kecil, orang tua, pemuda. Dari seorang siswa,  polisi, guru, atau bahkan ibu rumah tangga.

Books Not Bom bersama pejuang literasi Cirebon lainnya


Artikel ini pertama kali di Catatan Angkara.

Bila kamu juga ingin membagikan artikel kamu di C2live, segera hubungi putra@c2live.com.

Related Posts

 
Site Menu