Amartha Village Tour

C2live x Amartha Village Tour: Melihat UMKM Rintisan Para Perempuan Tangguh dari Dekat

I’m a writer at Content Collision

Sabtu, 10 November 2018 lalu, C2live bersama dengan rekan-rekan blogger berkesempatan untuk ikut serta dalam kegiatan tur yang diselenggarakan oleh Amartha, sebuah perusahaan teknologi finansial berbasis peer to peer lending.

Dengan berpartisipasi dalam Amartha Village Tour kali ini, para blogger diajak untuk menikmati kearifan lokal di pedesaan Ciseeng. Enggak hanya sekadar jalan-jalan, tur kali ini juga menjadi sarana bagi mereka untuk mengamati keahlian para Ibu Mitra Amartha dan mengulik cerita inspiratif di balik usaha mereka yang kian berkembang.

Untuk lebih lengkapnya, yuk langsung saja kita simak ulasan kegiatan tur ini!

Sekilas tentang Amartha

Amartha Village Tour

Sejak didirikan pada 2010, Amartha telah mengemban misi untuk menghubungkan pelaku usaha di pedesaan yang kesulitan mendapat modal usaha dengan para investor. Mengawali perjuangan sebagai lembaga keuangan mikro (koperasi), kini Amartha telah sukses tumbuh menjadi Fintech P2P Lending yang mampu menghubungkan pengusaha mikro dengan pemodal secara online.

Dengan semangat membangun social impact melalui pemanfaatan teknologi yang tepat, Amartha terus mengembangkan diri untuk memudahkan akses pemodalan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat dari piramida yang paling bawah.

Enggak hanya itu, Amartha juga percaya bahwa dengan mendukung keberlangsungan bisnis pelaku UMKM, mereka dapat membantu membangun ketahanan ekonomi dan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Keren, ya?

Untuk mendukung perwujudan hal tersebut, sejak 2017, Amartha mencoba melakukan pendekatan kreatif dalam mengkomunikasikan visinya kepada para stakeholder, salah satunya melalui kegiatan Amartha Village Tour (A Village Tour).

Mau tahu seperti apa kira-kira perjalanan mengikuti village tour dari Amartha? Simak terus kelanjutan cerita di bawah ini!

Baca juga: 5 Aplikasi yang Bisa Membuatmu Menjadi Blogger yang Produktif

Kunjungan ke Ciseeng

Sebelum melakukan perjalanan ke Ciseeng, para blogger mendapatkan pengarahan terlebih dahulu mengenai Amartha dan village tour yang akan dilaksanakan pada hari itu. Adapun pada kesempatan tur kali ini, kami diajak untuk mengunjungi lokasi usaha dari tiga Ibu Mitra Amartha dengan jenis usaha yang berbeda-beda. Berikut cerita dari tiap lokasi usaha yang kami kunjungi:

Ibu Ratna, Pengusaha Keset

Amartha Village Tour

Lokasi pertama yang kami kunjungi adalah kediaman Bu Ratna, seorang pengrajin keset di Desa Parigi. Ketika rombongan tur datang, kami langsung disambut untuk diajak masuk dan bercerita.

Ketika kami masuk, kami melihat bahwa ternyata Bu Ratna sudah siap membagikan cerita, lengkap dengan alat cetakan dan kain perca sisa konveksi yang akan ia gunakan untuk memeragakan cara membuat keset.

Sambil mengajarkan peserta tur untuk membuat keset, Bu Ratna bercerita bahwa dirinya telah bergabung menjadi Mitra Amartha selama delapan tahun. Berkat bantuan dari Amartha, kini ia sudah bisa membiayai kuliah anaknya hingga lulus, bahkan hingga merenovasi rumahnya.

Amartha Village Tour

Lebih lanjut, ia juga menceritakan bahwa dengan bergabung dalam kemitraan Amartha, ia dapat terus mengembangkan bisnisnya ke tahap yang lebih baik dengan segala pendampingan yang diberikan.

Ketika Bu Ratna hendak bergabung sebagai bagian dari mitra Amartha, ia bercerita bahwa dirinya diminta mengumpulkan 15 orang terlebih dahulu. Ini disebabkan karena Amartha memiliki sistem kelompok untuk peminjaman dana yang disebut sebagai majelis.

Penasaran dengan cara sistem yang satu ini, sambil mencoba membuat keset dengan cetakan yang disediakan, para blogger peserta tur lantas menanyakan detail tentang kelompok majelis yang disebutkan oleh Bu Ratna.

Idealnya satu majelis terdiri dari 15-25 orang. Bu Ratna sendiri pada waktu itu berhasil mengumpulkan 20 ibu-ibu lain untuk bergabung dalam majelis yang kini dipimpin olehnya, yaitu Majelis Cermai.

Semuanya ibu-ibu? Ya. Karena Amartha memang memfokuskan bantuan yang diberikan untuk pemberdayaan wanita, sehingga mereka bisa menjadi sosok perempuan tangguh dalam keluarga dan di lingkungan masyarakatnya.

Nah, sebelum memulai pinjaman, ibu-ibu ini akan diberikan pelatihan untuk menjalankan usaha. Biasanya, pelatihan akan memakan waktu selama lima hari. Dalam jangka waktu tersebut, para Ibu Mitra Amartha akan mendapatkan bimbingan pengelolaan usaha, literasi keuangan, dan hal-hal lain yang perlu dilakukan untuk menjalankan usaha.

Amartha Village Tour

Di awal keanggotaan, Bu Ratna mendapat pinjaman sebesar Rp500.000,-. Namun, karena kini usahanya sudah makin berkembang, kini Bu Ratna sudah bisa melakukan pinjaman hingga Rp10.000.000,-. Dengan pinjaman tersebut, modal untuk melanjutkan usaha pun semakin lancar.

Kini, Bu Ratna sudah secara stabil memproduksi kira-kira sepuluh keset setiap harinya. Satu buah keset ukuran kecil dijualnya dengan harga Rp3.5000-Rp5.000. Mendengar angka tersebut, rekan-rekan blogger langsung heboh menanyakan ketersediaan keset yang siap dijual.

Tak lama kemudian, Bu Ratna kembali dengan membawa sejumlah keset yang sudah jadi dengan motif dan warna yang menarik. Belum habis satu menit, keset-keset tersebut sudah habis diborong oleh para blogger. Seru banget!

Ibu Lilis, Pengusaha Golok

Amartha Village Tour

Tak jauh dari rumah Bu Ratna, ternyata ada lokasi UMKM lain yang juga merupakan bagian dari Majelis Cermai. Usaha ini dikelola oleh Bu Lilis, seorang pengusaha golok. Ngomong-ngomong soal golok, Desa Parigi di Kecamatan Ciseeng ini sebenarnya memang terkenal sebagai sentra pengrajin golok. Kadang, desa ini malah juga lebih dikenal juga sebagai “Kampung Golok”.

Bu Lilis sendiri sudah tujuh tahun menjadi Ibu Mitra Amartha. Sebenarnya, bisnis produksi golok ini adalah usaha suaminya. Namun, ia bertekad untuk membuat usaha keluarganya tersebut lebih maju. Karena itu, ia memutuskan untuk bergabung dengan Amartha.

Usaha yang dulunya dijalankan ala kadarnya, kini sudah jauh berkembang. Kepada para blogger yang antusias mendengarkan ceritanya, Bu Lilis mengaku kini sudah bisa mempekerjakan 3 pandai besi untuk meningkatkan jumlah produksi golok, pemberat timbangan, arit, dan pisau yang sering ia perdagangkan ke luar desa.

Amartha Village Tour

Bahan yang digunakan untuk membuat produk-produk tersebut biasanya berasal dari bekas per bajaj atau truk. Menurut Bu Lilis, bahan tersebut adalah pilihan yang paling memadai untuk dilebur untuk menjadi golok atau arit dengan kualitas yang cukup bagus.

Setelah selesai menceritakan tentang usahanya, Bu Lilis bersama-sama dengan para blogger diajak memperagakan ikrar yang biasa diucapkan oleh para anggota suatu majelis sebagai bukti komitmen mereka untuk menjalankan usaha dengan baik dan tidak saling menyusahkan anggota.

Amartha Village Tour

Dari percakapan lebih lanjut tentang keanggotaannya dalam Amartha, Bu Lilis juga menceritakan adanya sistem tanggung renteng sebagai upaya mitigasi risiko investasi yang menguntungkan bagi para investor. Jadi, dalam sistem ini, jika ada salah satu anggota majelis yang tidak mampu membayar tagihan mingguan sesuai dengan jumlah yang ditentukan, mau tidak mau, anggota-anggota lain harus beramai-ramai patungan menalangi jumlah tagihan yang belum dapat dibayar tersebut.

Sistem seperti ini ternyata ampuh untuk menjamin kedisiplinan Ibu-Ibu Mitra untuk tepat waktu membayar tagihan. Sebab, mereka akan merasa segan jika harus menyusahkan banyak orang hanya karena kelalaiannya. Jadi, investor pun akan merasa lebih aman dengan proses pengembalian dana yang diserahkan oleh para mitra.

Setelah mendengar informasi tersebut, para blogger jadi semakin tertarik untuk mengetahui lebih lanjut soal dampak positif yang bisa diberikan Amartha kepada UMKM mitra dan para investornya. Bahkan, beberapa di antara mereka sudah mulai tertarik mempertimbangkan diri untuk bergabung menjadi investor bagi kelancaran usaha para perempuan tangguh di desa melalui Amartha.

Ternyata, blogger-blogger ini punya semangat yang luar biasa juga untuk meningkatkan ekonomi rakyat!

Ibu Apsiah, Pengusaha Ikan Cupang

Amartha Village Tour

Usaha terakhir yang dikunjungi pada tur kali ini adalah ternak ikan cupang yang dikelola oleh Bu Apsiah. Berbeda dengan kedua Ibu Mitra Amartha sebelumnya, Bu Apsiah tidak tergabung dalam Majelis Cermai karena memang berlokasi di desa yang berbeda.

Adapun majelis yang ia ikuti bernama Majelis Jeruk, dan Bu Apsiah sudah menjadi anggotanya sejak 2011. Dulunya, keluarga Bu Apsiah memiliki kesulitan ekonomi karena suaminya tersendat perkara ijazah untuk mencari kerja.

Enggak mau berdiam diri menghadapi situasi tersebut, Bu Apsiah mencoba merubah nasib dengan pergi ke Jatinegara untuk mencari nafkah. Setelah pulang, ia membawa modal berupa ikan cupang dengan rencana untuk membudidayakannya.

Namun karena terhalang modal untuk memasarkan dan membuat kolam peternakan ikan, Bu Apsiah akhirnya memilih untuk membeli cupang dari petani ikan untuk dijual kembali dengan untung yang sangat tipis.

Amartha Village Tour

Dengan tekad merubah nasib, akhirnya Bu Apsiah memutuskan untuk bergabung dengan Amartha untuk mendapatkan modal, sehingga akhirnya ia bisa memiliki kolam dan membayar uang muka pembelian sepeda motor supaya suaminya bisa lebih mudah memperdagangkan ikan-ikan cupang ke Jakarta.

Dengan adanya modal tambahan tersebut, Bu Apsiah dan keluarga kini sudah bisa mendapat 5.000 telur ikan cupang sekali panen. Bahkan, varietas cupang yang dibudidayakan pun sudah lebih bervariasi dibanding masa awal ia merintis usaha ini.

Kini, dengan bantuan yang telah ia terima dari Amartha, Bu Apsiah sudah bisa membeli tanah dan rumah. Bahkan, ia juga sempat membeli kios di Jakarta untuk melebarkan usaha penjualan ikan cupang yang ia budidayakan. Keren banget, ya?

Amartha Village Tour

Setelah puas mendengarkan cerita tentang pengembangan usahanya, Bu Apsiah kemudian mengajak para blogger untuk berkeliling melihat ikan-ikan cupang yang ia budidayakan. Seluruh blogger terlihat antusias melihat berbagai motif dan corak ikan cupang yang tergantung di kantung-kantung berisi air pada papan budidaya.

Tak kuasa menahan rasa gemas dengan tampilan ikan-ikan yang lucu, akhirnya beberapa dari bloger pun memutuskan untuk membeli ikan cupang Bu Apsiah untuk dibawa sebagai oleh-oleh. Kalau sudah begini, bloggernya senang, Bu Apsiah pun juga jadi turut senang karena dagangannya laku!


Bagaimana, Guys? Seru, kan, perjalanan tur ke desa bersama Amartha kali ini? Enggak cuma mengetahui bagaimana teknologi bisa membantu peningkatan kesejahteraan masyarakat pedesaan, para peserta pun jadi bisa merasakan secara langsung kesederhanaan dan perjuangan yang dijalani oleh para Ibu-Ibu Mitra Amartha dalam mengembangkan usaha yang digeluti.

Semoga ke depannya, masyarakat Indonesia bisa semakin sejahtera demi terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh warga negara, ya! Jangan lupa juga untuk selalu menyebarkan konten positif yang inspiratif untuk saling membakar semangat pemberdayaan dan edukasi dalam negeri. Salam blogger!

Sumber gambar: Dok. C2live

Related Posts

 
Site Menu