coworking space

Mendengar Kata Coworking Space, Apa yang Kamu Bayangkan?

 

DLGJboh.jpg

Apa yang kamu bayangkan ketika mendengar ‘coworking space’? Cukup terkenal frasa “coworking space” di kalangan jiwa bisnis zaman sekarang. Konsep dan maknanya terilhami secara mendalam, namun definisi sebenarnya sulit diutarakan. Bagi penggiat usaha, terutama startup, coworking space terbayang di benak sebagai ruangan luas dengan tempat duduk nyaman, wifi kencang, dan pantry lengkap. Lengkap dalam artian tidak perlu lagi membeli minuman mahal di kafe–siapa saja bisa membuat minuman favoritnya sendiri di sana. Tidak jarang juga ada sofa nyaman, dan rak-rak buku yang diisi jendela ilmu dunia bisnis terbaru.

Namun, apakah deskripsi tersebut akurat menggambarkan coworking space? Ya dan tidak! Deskripsi tersebut sesuai dengan skema ‘tempat bekerja bersama’ dalam pandangan kita. Di lain sisi, esensi coworking space sebenarnya tidak digambarkan dalam definisi tersebut. Apa yang membedakan coworking space seperti EV Hive dengan kafe, kantor, atau bahkan rumah 2 lantai 3 kamar yang dipakai bersama-sama oleh beberapa startup?

Jawabannya terletak pada hal yang terjadi di dalamnya. Lantas, kebayangkah apa yang terjadi dalam tipikal coworking space seperti EV Hive?

1. Jauh dari sekadar ‘mengungsi’

00MBBjj.jpg

Coworking space berawal dari ide seorang programmer muda bernama Brad Neuberg (Fuzi, Clifton, dan Loudon, 2014) yang ingin ‘kabur’ dari kantor dan rumah untuk bekerja. Kantor memberikan suasana bekerja dan terstruktur, namun merenggut kebebasan. Sementara bila bekerja di rumah–well, don’t crap where you eat katanya–banyak kebiasaan buruk yang bisa terbentuk, ditambah dengan rasa kesepian.

Bagaimana dengan kafe? Untuk pekerja level entry yang butuh ketenangan dalam bekerja seperti saya, kafe merupakan tempat membayar mahal untuk bekerja dengan jutaan distraksi ditemani kopi yang terlalu manis atau pahit. Tentu, persepsi dan preferensi orang berbeda-beda.

80kayMI.jpg

Sementara, coworking space menyediakan tempat bekerja yang efektif untuk para entrepreneur yang mengungsi. Menggabungkan suasana produktif, kenyamanan layak rumah, dan kebebasan tingkat tinggi, sebuah coworking space memikat tenaga kreatif zaman sekarang untuk fokus dan produktif untuk dapat semakin bersaing di era teknologi ini.

2. Saling percaya, menghormati, dan berbagi

RHoXClm.jpg

Mungkin cukup jelas dari suku kata ‘co’-nya. Namun, frasa saling percaya dan berbagi juga mengindikaskan kebebasan untuk mengatur gaya kerja, bereksperimen, dan melakukan apa saja dengan satu batasan: pengguna lain mungkin ingin melakukan hal yang sama (Capdevila, 2015). Bisa dikatakan bahwa coworking space merupakan milik pribadi sekaligus bukan.

Misalnya, beberapa ruang meeting yang kondusif di EV Hive bisa digunakan sesuai kebutuhan, dengan catatan tidak ada yang sedang menggunakannya atau melakukan booking terlebih dahulu. Bekerja di sofa atau di lantai bersandar pada dinding sofa tidak masalah asal pengguna saling menghormati. Begitu juga dengan hal-hal kecil seperti kopi dan gula di pantry, hingga colokan listrik.

Esensinya, coworking space bisa disebut coworking space hanya ketika para pengguna menciptakan suasana berbagi, menghormati, dan saling percaya secara bersama-sama. Sedikit filosofis, namun bukankah itu kebenarannya?

3. Belajar, belajar, lagi, dan lagi!

mlnzSfs.jpg Coworking space bukan hanya ruang atau bangunan. Namun, lebih cocok disebut sebagai ‘platform’ pengetahuan. Artinya, coworking space yang baik juga merupakan pusat pengetahuan yang bisa mengamplifikasi kesempatan bisnis (Spinuzzi, 2012). Inilah yang dibutuhkan oleh startup.

Sure, banyaknya entrepreneur independen yang berkumpul menjadi satu meningkatkan kemungkinan berbagi informasi dan cerita dengan lebih tinggi. Tapi hal ini tentu bisa dilakukan di kafe, acara, dan kantor. Kita di sini berbicara tentang pembagian pengetahuan yang lebih konkret: kelas dan seminar.

Platform pengetahuan EV Hive tidak jarang membuka kelas programming dan UI/UX bersama institusi-institusi ternama. Acara yang mengundang CEO dan berbagai orang sukses untuk berbagi ceritanya merupakan insightful break yang dibutuhkan oleh para penggiat startup dari rutinitas kesehariannya di era teknologi seperti ini.

Penulis sendiri pernah menghadiri acara di EV Hive BSD yang mengundang Winston Utomo, CEO dari IDN Times untuk berbicara. Tebak siapa yang level-up sedikit soal konten kreatif? Oleh karena itu, pantas dikatakan bahwa coworking space yang baik juga bisa mendorong anggotanya untuk belajar, belajar, dan belajar!

4. Dukungan sosial yang mumpuni

RXX9JCD.jpgPerlu diketahui, salah satu paradigma konsep coworking space adalah kenyataan bahwa “being there is not enough”. Makna coworking space hilang bila tidak ada interaksi yang terjadi. Bila antar tenaga kreatif independen hanya fokus bekerja dan berinteraksi minimal, coworking space tidak berbeda jauh dengan kantor. Coworking space bisa disebut coworking space juga bila didalamnya terdapat lingkaran dan jaringan sosial yang merekatkan para pengguna menjadi sebuah komunitas (Merkel, 2015).

Terbentuknya jaringan berarti terbukanya pintu kesempatan untuk berbagi ide, bekerja sama, dan memperluas jaringan itu sendiri. Di saat yang sama, jendela solusi untuk permasalahan juga bisa ditemukan. Startup bisa saling berbagi cerita, memperkenalkan klien atau expert di bidang masing-masing, dan bahkan saling bertukar model berbisnis! Inilah esensi keempat sebuah coworking space: fasilitas dukungan sosial untuk para entrepreneur (Gerdenitsch, Scheel, Andorfer, dan Korunka, 2016).

Namun, dukungan sosial sulit didapatkan bila tidak ada host yang memfasilitasi (Merkel, 2015). Host atau fasilitator yang baik harus mampu membangun 3 hal: kurasi, koneksi, dan kultur (Surman, 2013). EV Hive melakukan ketiganya dengan ciamik.

coworking space

Dari segi kurasi, EV Hive tidak sembarang memilih anggota. Begitu juga anggota yang hadir tidak dibiarkan bekerja saja. Komitmen terhadap filosofi ‘grow together’ mendatangkan tidak hanya kelas dan seminar, namun juga perlengkapan penunjang usaha mulai dari software akuntansi, akses kepada rekrutmen, dan manajemen. Di era teknologi seperti sekarang, boost seperti inilah yang dibutuhkan startup untuk mencapai kesuksesan.

Dari segi koneksi, EV Hive memiliki platform online eksklusif tempat para anggota bisa berhubungan satu sama lain. Saling tergolong dan termasuk ke dalam sebuah komunitas yang memiliki fungsi seperti yang disebutkan sebelumnya mampu meningkatkan kepuasan terhadap hasil kerja (Gerdenitsch, Scheel, Andorfer, dan Korunka, 2016).

Dari segi kultur, coworking space seperti EV Hive menunjang 2 hal: kultur ‘melting pot’ tempat gairah dan keterampilan dari berbagai industri bertemu dan mendidih, serta kultur kolaborasi dan inovasi. Selain jaringannya yang ekstensif, hal ini ditunjukkan dari lokasi dan rancangan space-nya. Perabotan ergonomis dan interior nyaman dirancang untuk menunjang fleksibilitas bekerja. Eksterior yang identik dengan natural (apalagi EV Hive BSD), disengajakan untuk mengundang ide dan inspirasi.

Sulit untuk tidak merasa lebih baik ketika bekerja.


WhhLNRI.jpg

Kembali lagi ke esensi dari sebuah coworking space. Bukanlah apa isinya dan apa fasilitas yang bisa kita nikmati, namun pada apa yang terjadi di dalamnya, seberapa jauh hal tersebut berlangsung, dan berapa lama.

Bila Anda perlu diminta untuk membayangkan sebuah coworking space, jangan hanya bayangkan ruang kerja luas indah, dengan mesin kopi di sudut ruangan. Bayangkanlah interaksi antar penggiat bisnis dari berbagai latar. Bayangkan nikmatnya kopi, yang lebih pahit karena cerita jatuhnya seorang founder, sekaligus lebih manis karena cerita ia mendapatkan pendanaan series A. Bayangkan bukan ruang bertemu kosong, namun bengkel ide dan inovasi baru yang bekelanjutan. Saat anda membayangkan coworking space, bayangkan EV Hive.

===

Artikel ini ditulis sebagai contoh tulisan untuk lomba blogging bersama EV Hive dan C2live. Isi mengandung persepsi subjektif dari penulis berdasarkan pengamatan dan pengalaman ketika berada di dua platform tersebut. Semoga artikel ini membantu Anda memahami lebih lanjut tentang EV Hive, C2live, dan manfaat keduanya untuk Anda!

Related Posts

3 Comments

  • tamay mancini Posted at September 3, 2017 at 12:41 pm

    Bagaimana proses hadiahnya

  • Rina Darma Posted at September 4, 2017 at 4:55 am

    “being there is not enough” noted 🙂

Comments are closed.

 
Site Menu