Omah Mbudur

Mas Nur dan Omah Mbudur

Kalau saya tidak ingat kecintaan saya dengan tanah kelahiran dan seni, lebih baik saya tinggalkan Indonesia.

Kecintaan Nuryanto (43) akan seni budaya dan Indonesia membuatnya pantang menyerah dalam membangun Omah Mbudur, sebuah creative space (tempat orang-orang berkreasi olah seni and budaya) yang terletak di Dusun Jowahan, Desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur, Magelang. Usahanya tidak sia-sia karena sekarang Omah Mbudur berkembang hingga mempunyai luas hingga 2,5 hektar. Omah Mbudur yang pembangunannya dimulai pada tahun 2007, saat ini telah menjadi wadah bagi seluruh lapisan masyarakat untuk berkumpul, berdiskusi dan berkegiatan seni.

Omah Mbudur Selayang Pandang

Sejatining urip iku sing iso nggawe urup-urup, tampaknya prinsip itulah yang dipakai Mas Nur – panggilan akrab Nuryanto – dalam hidupnya. Kalimat diatas diambil dari falsafah berbahasa Jawa yang mempunyai arti “Hidup yang sejati itu jika kita dapat memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar, sesuai dengan bidangnya masing-masing.” Dalam perbincangannya dengan saya, Mas Nur mengatakan bahwa kerinduannya pada saat ia mulai membangun Omah Mbudur peruntukannya adalah untuk semua orang yang mau berkreasi. Baik kreatifitas seni tari, seni lukis, seni patung, seni kuliner, fotografi maupun kesenian yang lainnya. Ia yang meninggalkan Bali pada tahun 1999 mulai membangun desanya dengan “mbabat alas”. Membeli sebidang tanah, membuka hutan dan membangun kawasan Ombah Mbudur dari nol.

“Kalau saya tidak mengingat kecintaan saya akan tanah kelahiran saya, Magelang dan kekayaan seni budaya bangsa, saya lebih baik tinggalkan saja Omah Mbudur dan Indonesia,” kata Mas Nur dalam perbincangannya.

Omah Mbudur

Mas Nur dalam perbincangannya dengan kami. Dok: Pribadi

Saat itu bukan perkara yang mudah bagi Mas Nur untuk membangun Omah Mbudur. Dituding sebagai seniman gila karena membangun rumah hanya untuk “kongkow-kongkow” para seniman dan diskusi masyarakat. Omongan tak sedap lainnya sempat menjadi penghalang, namun semuanya itu tak menyurutkan niatnya dan sanggup ia hadapi. Terlihat saat ini Omah Mbudur berkembang menjadi tempat berkreasi bagi siapapun yang mau belajar dan berkarya. Tempat ini terbuka bagi setiap seniman, masyarakat sekitar bahkan para wisatawan. Masyarakat di sekitar Ombah Mbudur juga diajarkan untuk menciptakan hasil karya seni yang nantinya dapat dijual di galeri seni.

Omah Mbudur dan Aktivitasnya

Memasuki pelataran Omah Mbudur, langkah kaki saya seperti menembus sebuah dimensi yang berbeda. Sebuah gerbang megah terbuat dari batu pualam yang tersusun dengan rapi menyambut ramah, sementara lumut hijau dibiarkan menyelimuti sebagian gerbang batu itu. Rasa nyaman dan tenang menyeruak seketika dalam jiwa. Gerbang ini layaknya gerbang istana. Kesan alami dan asri tepat disematkan bagi tempat yang rimbun dan ditumbuhi banyak pohon ini. Tetabuhan gending Jawa terdengar menggema, dimainkan pada sebuah sudut rumah pendopo oleh kelompok karawitan  bapak-bapak. Dari lagu yang dilantunkan, sepertinya itu adalah sebuah langgam Jawa untuk penyambutan tamu.

Omah Mbudur

Tembok gerbang Omah Mbudur

Omah Mbudur dapat dikatakan sebagai salah satu pelopor pembangunan kawasan desa wisata di wilayah seputar candi Borobudur. Saat ini di Omah Mbudur telah terkonsep dengan matang beberapa atraksi dan fasilitas bagi para wisatawan. Fasilitas berupa aula pendopo yang cukup lega, camping ground, kegiatan outbound,wisata sawah bahkan wisata kesenian terdapat di sini. Pada setiap akhir pekan, tempat ini selalu dipenuhi oleh rombongan pelancong baik dari dalam maupun luar negeri.

Menyoal kerajinan tangan, para pengunjung Omah Mbudur diberikan kesempatan untuk belajar cara membuat kerajinan gerabah seperti asbak, guci kecil ataupun vas bunga dari tanah liat. Pengunjung akan dipandu oleh ibu-ibu pengrajin gerabah dari proses produksi hingga menjadi produk siap jual. Proses pembuatan kerajinan gerabah ini mengingatkan saya akan film Ghost-nya Patrick Swayze dan Demi Moore saat adegan membuat vas bunga.

Selain berbagai karya kerajinan tangan hasil karya masyarakat sekitar Omah Mbudur, Mas Nur juga mengajak masyarakat sekitar untuk menyediakan kamar dan rumahnya sebagai tempat menginap atau homestay para wisatawan.

“Pada awalnya sulit untuk menjelaskan dan mengedukasi masyarakat di sini. Namun lambat laun akhirnya mereka sadar dan melihat potensi yang besar dari kampung halamannya,” jelas Mas Nur.

Mas Nur sempat membuka homestay pertama kalinya dengan membuka rumah milik pamannya yang juga merupakan warga dusun Jowahan. Saat ini sudah terdapat puluhan homestay dari berbagai macam pilihan, dari kelas sederhana hingga ekslusif. Dari keterangan Mas Nur kepada saya, rata-rata setiap rumah penduduk menyediakan 2 kamar tidur untuk disewakan sebagai homestay. Wah, menarik ya bisa bermalam di rumah warga. Tentunya sangat menyenangkan karena dapat berinteraksi dengan warga lokal serta melihat keseharian mereka.

Gagasan Wisata Sawah

Keberadaan candi Borobudur memang menjadi magnet pariwisata di kabupaten Magelang, namun dari sekian banyak pengunjungnya tak banyak yang mau berkunjung ke obyek wisata lain di seputar candi. Hal ini kembali mengusik Mas Nur untuk berinisiatif memanfaatkan semua potensi yang ada disekitar candi. Ia menggagas wisata baru yaitu wisata sawah.

“Kami mencoba menggandeng para petani untuk membuat wisata sawah, tujuannya adalah  memberikan nilai tambah yang kami kembalikan kepada para petani. Saya melihat mereka ini sudah bekerja keras menggarap sawahnya, namun hasilnya kok sedikit,” kata Mas Nur.

Berangkat dari kondisi itulah timbul niatannya untuk mengajak para petani ini sebagai mitra kerjanya menciptakan wisata sawah. Sebagai langkah awal, Mas Nur mengajak para petani ini mengembangkan pertanian organik. Tanaman jagung, padi, ketela dan sayuran semuanya produk organik. Nilai jual produk organik ini kemudian dijual dengan harga tinggi kepada para wisatawan. Selain itu, wisatawan baik lokal maupun mancanegara ditawarkan dan diajak untuk membajak sawah, menanam padi, memanen ketela, memanen buah-buahan dan hasil perkebunan lainnya. Dengan kata lain aktifitas bercocok tanam ini dijadikan atraksi wisata.

“Alhamdullilah, program wisata sawah ini mendapat sambutan baik dari para wisatawan. Mereka banyak yang tertarik menjajal semua aktifitas tersebut. Saya berharap konsep yang kami buat ini dapat diadopsi dan diaplikasikan para petani dan pelaku wisata lainnya. Hasilnya lumayan lho, “ Mas Nur menjelaskan.

Dari sekian banyak ide maupun gagasan yang telah diwujudkan oleh Mas Nur, saya sempat bertanya apakah tidak takut jika ide-idenya itu dicuri oleh orang lain.

“Saya justru merasa senang dan bangga jika orang-orang meniru apa yang saya lakukan. Memberi jalan untuk kesejahteraan masyarakat sekitar Omah Mbudur itu menjadi suatu kebahagian buat saya, mas,” pungkasnya.

Saya pribadi kagum dengan sosok Mas Nur. Seseorang yang saya catat sudah selesai dengan hidupnya dan dapat menginspirasi banyak orang. Mas Nur percaya bahwa dalam kehidupan ini manusia harus selalu berbagi dengan masyarakat dan alam sekitarnya.

Apa yang sudah dilakukan Mas Nur dengan Omah Mbudur serta ide-idenya yang menjadi jalan untuk kesejahteraan masyarakat sekitarnya adalah perwujudan kerja sama yang harmonis. Warga dusun Jowahan mendapatkan banyak manfaat serta kenaikan derajat ekonomi dengan hadirnya Omah Mbudur.

Sejatining urip iku sing iso nggawe urup-urupMatur nuwun, Mas Nur.

Omah Mbudur

Related Posts

Site Menu