Arborek

Dampak Mass Tourism di Kampung Arborek, Raja Ampat

Saya salah satu blogger yang tergabung dalam komunitas C2live.com

Sektor pariwisata Indonesia saat ini berkontribusi sekitar 4% dari total perekonomian. Pada tahun 2019, Pemerintah Indonesia ingin meningkatkan angka ini dua kali lipat menjadi 8% dari PDB. Sebuah target besar yang berarti bahwa dalam waktu 4 tahun mendatang, jumlah pengunjung perlu ditingkatkan menjadi dua kali lipat yaitu sekitar 20 juta. Dalam rangka mencapai target ini, Pemerintah akan fokus memperbaiki infrastruktur Indonesia yang mencakup infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi, akses transportasi dan akomodasi, kesehatan & kebersihan, serta meningkatkan kampanye promosi online (marketing) di luar negeri. Pemerintah juga merevisi kebijakan akses visa gratis di 2015 untuk menarik lebih banyak turis asing.

Namun, ketika pariwisata semakin maju, masyarakat lokal malah hanya jadi penonton. Tidak mendapat manfaat ekonomi, bahkan sumber daya alam dan budaya ikut tergerus sebagai dampak dari arus pariwisata yang besar. Arus massa wisatawan yang tinggi kerap memaksa daya dukung suatu wilayah hingga melebihi kemampuannya menampung jumlah wisatawan yang datang. Baik daya dukung infrastruktur, alam, budaya, maupun manusia.

Dalam memahami kepariwisataan, terdapat berbagai bentuk perjalanan wisata yang dilakukan para wisatawan, diantaranya adalah perjalanan wisata massal (mass tourism, mass travel). Ditinjau dari pengertian hakiki, yang dimaksud dengan Mass Tourism adalah penyelenggaraan pariwisata yang melibatkan wisatawan dalam jumlah banyak, berombongan, dan dalam pengaturan yang boleh dikatakan hampir standar dalam hal pengaturan waktu, tempat yang dikunjungi, fasilitas (penerbangan, hotel, dll) yang digunakan dan ditetapkan dalam paket yang standar.

Selain Mass Tourism, terdapat juga Sustainable Tourism atau pariwisata berkelanjutan yang mencakup semua segmen industri dengan pedoman dan kriteria yang bertujuan untuk mengurangi dampak lingkungan, terutama penggunaan sumber daya yang tidak terbarukan.

Sustainable Tourism merupakan sebuah bentuk kegiatan pariwisata yang mengelola sumber daya alam supaya tidak over eksploitasi. Pariwisata berkelanjutan menggunakan standar yang terukur, dan ditujukan untuk meningkatkan kontribusi pariwisata terhadap pembangunan berkelanjutan serta pelestarian terhadap lingkungan.

Salah satu destinasi di Indonesia yang terkena dampak Mass Tourism adalah Arborek, Raja Ampat. Kampung Arborek merupakan sebuah kampung wisata yang terletak di Meos Mansar, Raja Ampat, Papua Barat. Keindahannya sudah terkenal ke seantero dunia. Pemandangan bawah lautnya memikat banyak penyelam dari berbagai belahan dunia.

WhatsApp Image 2018-08-15 at 9.12.17 AM.jpeg

Kampung Arborek meraih penghargaan Green Award untuk kategori “Pemanfaatan Ekonomi untuk Masyarakat Lokal” dalam gelaran Indonesia Sustainable Tourism Award (ISTA) tahun 2017 yang diselenggarakan oleh Kementrian Pariwisata (KEMENPAR) Republik Indonesia.

Namun, selain berpotensi mendatangkan manfaat besar bagi masyarakat lokal, pariwisata juga dapat menimbulkan ‘bencana’ yang sama besarnya jika tidak dikelola dengan tepat. Sebagaimana halnya dengan destinasi lain di Indonesia yang kepada kelestarian sumber daya alaminya sebagai aset utama, perkembangan pariwisata tentunya menyiratkan beragam tantangan kompleks yang membutuhkan solusi yang komprehensif pula, bahkan Arborek pun tidak luput dari kemungkinan ini.

Salah seorang pengelola Arborek Dive Shop, Githa Evangelista Anathasia, yang sekaligus merupakan Woman Creative Tourism Ambassador 2012, memberikan contoh dari dampak negatif yang dialami Kampung Arborek karena Mass Tourism. Githa sendiri sebenarnya adalah pendatang, tapi setelah menikah dengan warga lokal Arborek, dia sekarang menetap di Kampung Arborek. Contoh yang diberikannya yaitu adanya pembangunan yang dirasa tidak perlu dalam skala besar. Pembangunan-pembangunan tersebut contohnya adalah ayunan di pantai, meja di pantai yang terbuat dari semen, toilet yang juga dibangun di pinggir pantai, dibangunnya Honai dari semen, serta adanya galeri untuk berjualan yang letaknya juga di pinggir pantai.

Githa.jpg

Sebelum ada pembangunan-pembangunan tersebut, Arborek merupakan sebuah desa yang asri dan alami. Di pinggir pantainya terletak beberapa kursi malas yang terbuat dari bambu. Tempat para ibu-ibu membuat noken dan berbagai kerajinan khas Papua lainnya. Tapi kini semua kealamian itu akan digantikan dengan semen.

WhatsApp Image 2018-08-15 at 9.21.00 AM

Menurut Githa, kalau dilihat dari kebutuhan, Arborek lebih membutuhkan mesin penyulingan air dan mesin pengolahan sampah dibandingkan bangunan-bangunan beton tersebut. Sampai saat ini, masyarakat Arborek mendapatkan air bersih dari Waisai. Warga Arborek menggunakan kapal untuk mengambil air ke Waisai yang berjarak sekitar 42 km.

WhatsApp Image 2018-08-15 at 9.15.04 AM.jpeg

Mesin penyulingan air dan pengolahan sampah sebenarnya sudah ada di Arborek, tapi saat ini kondisinya rusak dan tidak bisa diperbaiki. Kondisi ini membuat masyarakat Arborek terpaksa membakar sampah yang ada karena tidak ada mesin untuk mengolahnya.

WhatsApp Image 2018-08-15 at 9.15.00 AM.jpeg

Githa menambahkan bahwa Mass Tourism di Arborek juga menimbulkan dampak negatif pada budaya setempat atau disebut Culture Shock. Contohnya adalah penduduk terutama gadis remaja mulai malas membuat kerajinan tangan. Apabila budaya negatif ini berkelanjutan, maka tidak tertutup kemungkinan akan hilangnya kerajinan-kerajinan khas Papua yang menjadi salah satu daya tarik wisatawan karena tidak ada lagi yang bisa membuatnya di Arborek.

WhatsApp Image 2018-08-15 at 9.18.52 AM

Selain itu menurut Githa, dampak negatif dari Mass Tourismpun bisa berpengaruh juga ke alam. Ketika suatu daerah terlalu dieksploitasi, misalnya wisatawan memberi makan ikan yang ada di laut untuk kepentingan berfoto atau hanya bersenang-senang, hal itu akan menghilangkan sifat alami dari ikan. Ikan seharusnya memakan karang-karang mati serta alga pengganggu kehidupan bawah laut, dikarenakan kebiasaan ikan yang diberi makan oleh manusia, maka ikan tidak mau lagi memakan karang-karang mati yang mengakibatkan kerusakan ekosistem.

WhatsApp Image 2018-08-15 at 9.29.20 AM.jpeg

Karena itu sangat diperlukan edukasi kepada semua travel agent agar mencegah pesertanya melakukan hal-hal negatif yang bisa merusak. Kelestarian alam perlu dijaga untuk kelangsungan hidup manusia generasi sekarang dan generasi yang akan datang. Jika kesadaran tidak ditanamkan sejak dini, maka generasi selanjutnya hanya akan mendapati kerusakan saja.

Related Posts

 
Site Menu