Pulau Papan

Harmoni Biru Pulau Papan

Senyum lugu mereka merekah menyambut kedatangan kami di dermaga kecil itu. Tatapan malu-malu terpancar dari mata kecoklatan mereka. Kulit gelap nan eksotis mendominasi. Mereka adalah anak-anak Pulau Papan, yang senyum manisnya seolah tak pernah lekang tersungging di bibir.

Perlahan tapi pasti speedboat kami merapat ke dermaga. Sebenarnya tidak layak disebut dermaga, karena memang hanya nampak seperti teras sebuah rumah. Destinasi yang kami kunjungi ini disebut Pulau Papan. Air biru jernih mengelilinginya, membuat seolah ingin melompat dan segera bercengkerama mesra dengan berbagai ikan warna warni yang hilir mudik menggoda.

Pulau Papan merupakan salah satu pulau yang termasuk ke dalam kawasan Taman Nasional Kepulauan Togean. Taman Nasional Kepulauan Togean adalah sebuah taman nasional di Kepulauan Togean yang terletak di Teluk Tomini, Sulawesi Tengah yang diresmikan pada tahun 2004. Secara administrasi wilayah ini berada di Kabupaten Tojo Una-una. Kepulauan ini dikenal kaya akan terumbu karang dan berbagai biota laut yang langka dan dilindungi.

Pulau Papan banyak dihuni oleh Suku Bajo. Suku Bajo merupakan salah satu suku di Indonesia yang terkenal sebagai suku yang hidup berpindah-pindah. Namun saat ini, kehidupan dari Suku Bajo tidaklah senomaden para pendahulu mereka, banyak dari anggota Suku Bajo yang telah menetap tinggal di suatu pulau.

DSCN2996.jpg

Menurut sejarah, orang-orang Suku Bajo berasal dari Kepulauan Sulu di wilayah Filipina Selatan yang hidup nomaden di lautan lepas. Perjalanan di laut lepas membawa mereka masuk ke wilayah Indonesia, salah satunya di sekitar Pulau Sulawesi ratusan tahun lalu.

Suku Bajo tinggal mendiami beberapa pulau di kawasan taman nasional yang merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Tojo Una-una, Provinsi Sulawesi Tengah. Suku Bajo adalah satu dari sekian banyak suku di Nusantara dengan kearifan lokal yang mengagumkan untuk hidup berdampingan dengan ekosistem laut.

DSCN2975.jpg

Mayoritas rumah yang ada di Pulau Papan dibangun di atas air. Pulau Papan bukanlah suatu pulau yang besar, luas pulau ini tidak lebih 1 km persegi. Pulau ini hanya dijadikan tempat untuk mendirikan sarana ibadah dan sanitasi saja sedangkan rumah-rumah tinggal dibuat mengelilingi pulau ini dengan tetap berpatok pada dasar laut. Rumah orang Bajo terlihat sangat sederhana karena hanya terdiri dari papan sebagai dinding dan batang pohon jenis bakau yang tahan air sebagai penyangganya.

DSC05777.jpg

Walaupun terlihat sederhana, namun Suku Bajo di Pulau Papan ini tidak anti terhadap teknologi dan informasi. Beberapa rumah terlihat memasang parabola untuk memperjelas saluran televisi, sedangkan yang lainnya cukup dengan mendengarkan radio saja untuk mendapatkan informasi tentang keadaan yang sedang terjadi di luar sana.

DSC05779.jpg

Suku Bajo dikenal dengan kemampuan melautnya yang sangat baik. Berprofesi sebagai nelayan, orang-orang Bajo memiliki kelihaian dalam menjalankan profesi mereka. Salah satunya adalah kemampuan mereka berenang sambil menahan nafas di dalam air dengan durasi yang cukup panjang. Kemampuan tersebut tentunya merupakan kemampuan yang sangat luar biasa. Semua pria di kampung Bajo ini berprofesi sebagai nelayan sedangkan para wanita bekerja di rumah atau membantu mencari ikan di sekitar rumah.

DSC05879.jpg

Eratnya hubungan masyarakat Bajo dan laut dapat dilihat dari lingkungan laut yang berada disekitar perkampungan ini. Masyarakat Bajo sangat menjaga kelestarian laut karena laut merupakan sumber penghidupan mereka sehingga masyarakat Bajo ini sangat menjaga ekosistem perairan di sekitar Pulau Papan ini.

 

Baca juga: 7 Persiapan Wajib Sebelum Mengunjungi Baduy

Saat ini Suku Bajo sudah banyak membaur dengan suku-suku lainnya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dan tak sedikit juga orang Suku Bajo yang mendiami Pulau Papan serta menikah dengan orang lokal. Keunikan hidup Suku Bajo menjadi daya tarik bagi wisatawan.

DSCN2982.jpg

Mata pencaharian utama Suku Bajo adalah mencari ikan dengan cara yang masih terbilang tradisional, seperti memancing, memanah, dan menjaring ikan. Ikan-ikan tersebut nantinya dijual kepada penduduk sekitar pesisir atau pulau terdekat. Kehidupan Suku Bajo memang masih terbilang sangat sederhana. Mendirikan pemukiman tetap pun mungkin tak terpikir oleh mereka apabila tidak dihimbau oleh Pemerintah setempat.

Dengan membangun rumah dan pemukiman di sekitar pulau, akses terhadap kebutuhan pendidikan dan kesehatan bagi anak-anak suku ini diharapkan lebih terjamin. Meskipun begitu, kepala keluarga biasanya tetap menghabiskan sebagian besar waktunya di laut lepas, mengingat laut adalah ladang mata pencaharian mereka. Ibu rumah tangga Suku Bajo selain mengurus rumah tangga juga membantu suami dengan cara mengolah hasil tangkapan ikan atau menenun. Saat melintasi perkampungan yang sederhana ini nampak hamparan ikan hasil tangkapan yang dijemur di sekitar rumah.

Beberapa Suku Bajo bahkan sudah mengenal teknik budidaya produk laut tertentu, misalnya lobster, ikan kerapu, udang, dan lain sebagainya. Mereka menyebut tempat budidaya sebagai tambak terapung yang biasanya terletak tak jauh dari pemukiman. Sebagian kecil masyarakat Suku Bajo bahkan sudah membuat rumah permanen dengan menggunakan semen dan berjendela kaca. Anak-anak Suku Bajo juga sudah banyak yang bersekolah, bahkan ada yang sampai perguruan tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran mereka tentang pentingnya pendidikan sudah mulai terbangun.

Di Pulau Papan pengunjung bisa menemukan sebuah jembatan panjang sekitar satu kilometer yang menghubungkan Pulau Papan dengan Pulau Malenge, Kecamatan Talatako, Sulawesi Tengah yang menjadi pusat kelurahan dari wilayah setempat. Jembatan papan ini menjadi akses yang membuat pulau mungil tersebut menjadi tempat favorit turis dalam ataupun luar negeri.

DSCN3010.jpg

Jembatan yang menghubungkan Pulau Malenge dan Pulau Papan ini punya pemandangan yang cantik, beberapa traveler menyebutnya sebagai aquarium raksasa. Karena di bawah jembatan ini, terdapat pemandangan laut yang jernih sehingga kita bisa melihat ikan bermain disitu. Air laut yang jernih dan gradasi warna yang tegas menjadi pemandangan yang akan ditemui jika berkunjung ke pulau ini.

Di tengah desa di Pulau Papan terdapat satu tempat yang dinamai Puncak Batu Karang. Puncak ini biasa dijadikan tempat para anak-anak Suku Bajo untuk bermain bersama para wisatawan. Dari atas puncak ini dapat terlihat keseluruhan panjang jembatan dan juga pemandangan laut di sekitar Pulau Papan. Keramahan Suku Bajo merupakan hal lain yang dapat dijumpai dan menjadi kenangan baik dari pulau ini.

DSCN2977.jpg

Dengan antusias yang tinggi, anak-anak Suku Bajo tak akan sungkan mengajak para pengunjung yang datang ke Pulau Papan untuk bermain dan berkeliling mengitari desa tempat tinggal mereka. Mereka juga mempunyai sebuah lagu yang mereka ciptakan sendiri, isinya bercerita mengenai Pulau Papan. Dengan riang gembira mereka akan menyanyikannya saat kita memintanya.

DSC05757.jpg

Jarak Pulau Papan dari Palu, ibukota Sulawesi Tengah adalah sekitar 400 km. Untuk mengunjungi Pulau Papan ada beberapa akses yang bisa ditempuh. Akses pertama dari Gorontalo kemudian dilanjutkan dengan ferry menuju Wakai. Bisa juga diakses dari Palu kemudian dilanjutkan dengan pesawat ke Ampana lalu dilanjutkan dengan speedboat menuju Wakai. Setelah tiba di Desa Wakai, perjalanan dilanjutkan dengan menyewa jasa perahu nelayan atau speedboat langsung menuju Desa Pulau Malenge lalu ke Desa Pulau Papan yang jaraknya hanya sekitar 30 menit.


Artikel ini pertama kali dipublikasikan di Langkah Kaki Kecilku. Bila kamu juga ingin membagikan artikel kamu di C2live, segera hubungi putra@c2live.com.

Related Posts

Site Menu