Kebiasaan Buruk Menulis

Jadilah Penulis yang Buruk, agar Kamu Menjadi Penulis yang Berhasil

Blogging tidak pernah lepas dari kegiatan menulis. Karenanya, jika kamu ingin menjadi blogger yang sukses, kamu memerlukan keterampilan menulis yang baik. Tidak hanya itu, beragam hal lain terkait penggagasan ide, pengumpulan data, serta aplikasi teknologi, juga perlu kamu kuasai.

Sebagai blogger pemula wajar saja jika kamu belum menemukan best practice untuk memproduksi tulisan secara rutin. Bahkan, kalaupun kamu juga sudah cukup lama terjun dalam dunia blogging, bisa saja kamu juga masih memiliki berbagai kebiasaan buruk yang dapat mempengaruhi performa menulismu.

Namun demikian, tidak seluruh kebiasaan buruk menulis yang kamu miliki akan membuatmu menjadi penulis yang gagal. Jika disiasati dengan tepat, kebiasaan buruk tersebut sebenarnya bisa kamu jadikan sesuatu yang menguntungkan. Nah, berikut adalah 4 kebiasaan buruk menulis yang dapat membantu meningkatkan performa blogging-mu.

1.Tidak memiliki fokus penulisan

Kebiasaan Buruk Menulis

Memilih topik untuk menuliskan sebuah konten itu tidak semudah yang dikira, lho. Tidak hanya sampai situ, kalaupun kamu sudah menemukan suatu topik tertentu, kamu juga sering merasakan bahwa pembahasan yang kamu tulis akhirnya terlalu melebar dan meluas, kan? Nah, hal ini sebenarnya akan mempengaruhi performa blogmu secara keseluruhan. Sebab, pembaca biasanya lebih menyukai pembahasan yang fokus dan benar-benar sesuai dengan kebutuhan mereka.

Tetapi, dengan penulisanmu yang melebar dan luas itu, kamu jadi bisa mengeksplorasi pembahasan ke berbagai arah untuk diolah kembali. Nantinya, pokok-pokok perluasan tersebut bisa kamu break down untuk dijadikan tulisan-tulisan mandiri. Dengan begitu, nantinya blogmu jadi akan memiliki pembahasan yang menyeluruh tentang suatu topik tertentu, dengan sudut pandang yang unik di tiap tulisannya.

2. Selalu menulis dengan deadline yang serba ketat

Kebiasaan Buruk Menulis

Menulis biasanya membutuhkan durasi waktu yang cukup lama supaya kamu bisa merampungkan suatu konten dengan optimal. Namun blogger biasanya memiliki jam biologis mereka masing-masing sehingga mereka bisa menentukan kapan harus menulis, yang biasanya jatuh pada jam-jam produktif mereka.

Tapi, bagaimana dengan kamu yang punya kebiasaan selalu menulis dengan terburu-buru karena deadline yang serba ketat? Bukan hanya terpaksa menulis di saat-saat yang tidak produktif, kualitas tulisanmu juga sering dijadikan taruhan. Ini merupakan kebiasaan buruk menulis yang cukup mengkhawatirkan. Tapi tenang saja. Dengan deadline semacam itu, sebenarnya kamu sedang menempa diri untuk menjadi penulis yang super produktif dan terorganisir.

Mengapa? Deadline yang ketat memaksamu untuk menulis dalam waktu cepat, namun kamu juga tetap tidak bisa mengabaikan kualitas tulisanmu, bukan? Selain itu, deadline yang ketat juga membuatmu perlu melakukan penjadwalan agar semua tulisan yang perlu kamu kerjakan dapat terselesaikan dengan baik. Karena itu, kamu pun juga jadi akan terlatih untuk menjadikan kegiatan blogging-mu lebih terorganisir.

3. Keliru menerapkan EYD

Kebiasaan Buruk Menulis

Kekeliruan penulisan yang tidak mengindahkan ketentuan EYD masih sering ditemukan pada artikel-artikel tulisan blogger. Kebiasaan buruk menulis yang satu ini memang rasanya sangat rawan dialami oleh sebagian besar penulis. Banyaknya kaidah penulisan yang ada seringkali membuat kita bingung menerapkannya. Bahkan, ada saja aturan penulisan yang tidak kita ketahui saking banyaknya.

Namun, sebagai penulis, kamu tetap perlu untuk meminimalisir kekeliruan-kekeliruan tersebut, sebab hal itu sangat berpotensi untuk membuat para pembacamu risih. Jika dibiarkan, kamu bisa kehilangan kredibilitas blogmu. Tapi, kesalahan-kesalahan tersebut sebenarnya bisa kamu jadikan pembelajaran, lho.

Dengan mengetahui berbagai kekeliruan EYD yang telah kamu lakukan, kamu jadi mendapat pembelajaran baru sehingga bisa menciptakan artikel yang lebih baik ke depannya. Karenanya, jangan mudah menyerah jika kamu merasa tulisanmu belum cukup rapi untuk dijadikan konsumsi pembaca. Justru, kamu harus berani belajar dari kesalahanmu. Kalau kamu tidak pernah membuat kesalahan, kamu malah tidak akan mengetahui apakah tulisanmu sudah baik atau belum.

4. Tata penulisan yang berantakan

Kebiasaan Buruk Menulis

Dalam dunia penulisan, ada berbagai hal yang perlu kamu perhatikan. Sebelum menyajikan kontenmu pada pembaca, kamu perlu memastikan bahwa tulisanmu layak untuk dikonsumsi. Permasalahannya, salah satu kebiasaan buruk menulis yang sering kita lakukan adalah menghasilkan tulisan dengan tata penulisan yang kurang baik.

Namun, hal ini sebenarnya bisa kamu manfaatkan untuk pengembangan diri sebagai blogger. Dengan tata penulisan yang berantakan tersebut, kamu jadi perlu memeriksa tulisanmu kembali, bahkan merevisinya jika memang diperlukan. Dengan terbiasa melakukan hal seperti ini, kamu akan terlatih untuk merevisi dan mengedit sebuat tulisan. Ini merupakan keterampilan yang sangat kamu butuhkan untuk menjadi blogger yang sukses; kamu perlu mengetahui di mana letak kesalahan penulisanmu dan memperbaikinya. Dengan demikian, kamu jadi bisa menyuguhkan tulisan dengan kualitas yang lebih baik pada pembaca.

Karenanya, janganlah malas untuk membaca kembali tulisanmu yang sudah rampung. Pastikan kamu tidak melewatkan poin-poin penting dalam penulisanmu dan menuturkannya secara terstruktur dan rapi. Untuk melakukan ini, ada baiknya kamu beristirahat sejenak sebelum melakukan cross check pada tulisanmu, sebab kamu membutuhkan isi pikiran yang fresh untuk melakukan pemeriksaan terhadap tulisanmu. Sebab, jika kamu kembali memeriksa tulisanmu dalam keadaan otak yang lelah, kamu malah bisa melakukan blunder sehingga hasil editanmu bisa bias dan tidak fokus.


Nah, itulah empat contoh kebiasaan buruk menulis yang sebenarnya bisa kamu siasati agar menjadi hal yang bisa melatih dirimu untuk menjadi blogger yang lebih baik. Dengan terus mempelajari kekurangan yang kamu miliki dan berupaya memperbaikinya, kamu bisa jadi penulis yang sukses.

Karenanya, cobalah untuk selalu aware dengan kelemahan-kelemahan yang kamu miliki. Terimalah kelemahan itu, namun jangan biarkan dia terus menjadi suatu kelemahan. Ubahlah kelemahan tersebut menjadi kekuatan yang bisa mendukung perkembangan dirimu. Dengan demikian, kamupun jadi bisa melakukan segala sesuatu dengan lebih baik. Semangat!

Sumber gambar: The Content Funnel, Maroela Media, Hello Bar, ECG Productions, kimplacegateau.

Related Posts

Site Menu