depresi pada penulis

Mengenali Depresi pada Penulis dan Bagaimana Cara Meregulasi Emosi selagi Berkarya

Saya salah satu blogger yang tergabung dalam komunitas C2live.com

Kegiatan menulis bisa menyebabkan stres dan depresi? Dari manakah isu ini berasal? Jika ditelaah dengan lebih saksama, sebenarnya, sudah sejak lama kegiatan kreatif dikaitkan dengan stres. Pasalnya, ada banyak penulis-penulis klasik ternama yang menunjukkan tanda-tanda depresi. Sebagai contoh, novelis-novelis terkemuka seperti Ernest Hemmingway, Virginia Woolf, dan Sylvia Plath pernah mengalami depresi.

Tidak hanya sampai di situ, sejumlah media layar lebar juga tidak jarang menggambarkan depresi pada penulis. Lihat saja film horor klasik The Shining (1980) yang menggambarkan isolasi diri seorang penulis untuk mendapatkan inspirasi ataupun film Adaptation (2002) yang menunjukkan frustrasi seorang penulis dalam melanjutkan karyanya.

Kasus-kasus tersebut tidak hanya berlaku di masa lalu saja. Pada tahun 2012, Simon Kyaga dari Universitas Karolinska memeriksa lebih dari satu juta pasien di negara Swedia. Dalam penelitian tersebut, Simon dan kolega-koleganya mencocokkan data pasien institusi medis dan profesi mereka. Dari penelitiannya, ia menemukan bahwa terdapat korelasi positif antara profesi penulis dan gangguan depresi, gangguan kecemasan, penyalahgunaan minuman keras dan obat-obatan terlarang, serta tindakan bunuh diri.

Kenapa, sih, profesi yang biasanya terlihat menyenangkan ini bisa punya sisi gelap yang cukup mengejutkan?

Risiko-risiko yang berkontribusi dalam menyebabkan depresi pada penulis

depresi pada penulis
Untuk dapat menghasilkan suatu karya tulis ‒ entah itu artikel blog, puisi, cerita novel, atau skrip drama, umumnya seorang penulis harus melalui sejumlah langkah. Langkah tersebut dapat mencakup mengumpulkan gagasan, melakukan perencanaan, riset, mengorganisir ide, membuat tulisan awal (draft), revisi, dan evaluasi. Memang, setiap penulis pasti memiliki teknik yang berbeda-beda dalam menulis. Namun, pada dasarnya mereka pasti akan tetap melalui sejumlah langkah di atas.

Dalam menjalani langkah-langkah tersebut, tidak jarang seorang penulis mengalami tantangan-tantangan yang berpotensi membuat mereka merasa frustrasi. Mulai dari kurangnya inspirasi untuk membuat gagasan yang unik, komentar-komentar tidak sedap mengenai tulisan, sampai kesulitan dalam melanjutkan tulisan alias writer’s block, semuanya mungkin saja dialami seorang penulis.

Ada berbagai hal yang mungkin terjadi dalam perjalanan untuk menciptakan karya tulis. Suatu ide yang sepertinya cemerlang bisa saja gagal direalisasikan dan menjadi tulisan yang kurang membanggakan. Pada kasus lain, seorang penulis bisa juga merasa ragu dengan kemampuannya sendiri ataupun kehilangan inspirasi sehingga ia tidak mampu melanjutkan tulisannya. Pada masa yang pasif itu seorang penulis dapat dihantui oleh perasaan cemas, bersalah, marah, terkekang, ataupun malu karena tidak dapat menyelesaikan tulisannya.

Melihat kasus-kasus di atas, sudah sepantasnya bila penulis lebih memperhatikan emosi dan mood mereka ketika menulis. Bagaimanapun juga, hal-hal tersebut dapat berakhir dengan depresi pada penulis.

Apa sih, sebenarnya depresi itu?

depresi pada penulis
Kita semua pasti sudah pernah mendengar istilah depresi, tapi sebenarnya apa sih arti depresi secara klinis? Berdasarkan Asosiasi Psikiater Amerika, major depressive disorder merupakan sindrom yang ditandai dengan perasaan tertekan dan hilangnya ketertarikan atau perasaan senang dalam kebanyakan aktivitas. Gejala lainnya berupa perasaan tidak berharga atau bersalah, gagasan untuk bunuh diri, percobaan bunuh diri, agitasi psikomotor atau kelambanan psikomotor, insomnia (kurang tidur) atau hypersomnia (tidur berlebih), penurunan atau peningkatan berat badan, terganggunya konsentrasi, kesulitan berpikir, dan kehilangan tenaga.

Untuk dapat dikatakan sebagai gangguan, gejala-gejala tersebut perlu bertahan selama dua minggu, menampilkan perubahan dari kebiasaan sebelumnya, dan menyebabkan gangguan pada fungsi keseharian (kehidupan sosial, pekerjaan, dan aspek kehidupan lainnya). Selain menyebabkan penurunan produktivitas, depresi juga seringkali dikaitkan dengan peningkatan kemungkinan serangan jantung.

Lebih terbuka dengan diri sendiri dan mood ketika menulis

depresi pada penulis
Memang, ada banyak emosi yang terkait dengan aktivitas menulis. Mulai dari perasaan senang ketika berhasil menciptakan karya tulis yang bagus dan mendapat masukan positif dari pembaca, hingga perasaan mengesalkan ketika penulis mendapatkan writer’s block. Di luar itu, proses menulis juga seringkali melibatkan banyak perenungan yang dapat menyebabkan, baik emosi positif ataupun negatif.

Oleh karena itu, sebaiknya seorang penulis itu lebih sadar diri terhadap emosi yang ia rasakan ketika tengah mengerjakan karya tulis. Tidak hanya perasaan-perasaan negatif saja yang perlu diperhatikan. Namun, ia juga perlu memperhatikan perasaan positif yang mungkin berlebihan. Misalnya seperti terlalu seru menulis sampai-sampai lupa tidur dan makan.

Yang harus dilakukan untuk mengatasi depresi pada penulis

depresi pada penulis
Bila kamu sudah tahu soal risiko dan hal-hal yang dapat menimbulkan depresi, tentu pertanyaan selanjutnya adalah apa yang sebaiknya dilakukan ketika kamu merasakan hal-hal negatif di atas.

Depresi akibat perenungan dapat ditanggulangi dengan membahas hal tersebut bersama orang lain. Diskusi yang bersifat suportif dalam hubungan sehat dapat membantu penulis melalui perenungan yang bersifat negatif. Selain itu, gejala depresi juga dapat dikurangi dengan melakukan aktivitas fisik, seperti misalnya berjalan kaki selama 30 menit.

Untuk kamu yang mengalami writer’s block, kamu dapat mencoba untuk berhenti menulis secara sejenak. Berdasarkan model proses kreatif menurut Graham Wallas, halangan dalam melanjutkan karya dapat diselesaikan melalui inkubasi. Pada inkubasi, individu biasa menjauhkan diri dari permasalahan, namun masih memikirkan permasalahan tersebut secara tidak sadar. Alhasil, kamu bisa saja mendapat inspirasi akan penyelesaian masalah secara tiba-tiba ketika mendengar atau menyaksikan sesuatu yang berkaitan dengan masalahmu.


Memang, kegiatan menulis memiliki risiko tersendiri. Namun, di sisi lain, menulis juga merupakan cara yang baik untuk mengorganisir ide-ide dan meregulasi pikiran. Tidak hanya itu, seorang penulis juga memiliki potensi untuk menginspirasi dan menghibur para pembacanya.

Lagipula, dampak emosional pada penulis juga dapat berkurang sesuai dengan jam terbang seorang penulis. Semakin banyak pengalaman, semakin mudah kamu bisa menghadapi writer’s block ataupun kritik pedas pembaca. Oleh karena itu, jangan ragu-ragu untuk terus melanjutkan hobi menulismu.

Sumber: lukasbieri, Talk SpaceStockSnapVerywell.

Related Posts

 
Site Menu