Ullen Sentalu

Menyentuh Aroma Sejarah Kerajaan Jawa di Museum Ullen Sentalu

Saya salah satu blogger yang tergabung dalam komunitas C2live.com

Museum adalah satu kata yang identik dengan kuno, ketinggalan zaman dan juga tua. Lekat dengan frasa tua, maka museum menjadi tempat yang jarang menarik minat pengunjung apalagi untuk anak-anak dan orang muda. Memang benar karena kenyataannya museum di Indonesia itu umumnya terkesan hanya dipakai sebagai gudang barang-barang bersejarah dan dipamerkan tanpa penataan dan manajemen yang rapi. Namun meski begitu saya justru lebih tertarik mengunjungi lokasi bersejarah seperti candi, bangunan kuno atau museum selain pergi ke alam bebas. Dan sejauh ini baru ada satu museum yang membuat saya ingin kembali berkunjung yaitu Museum Ullen Sentalu.

Saya mengunjungi museum ini setahun lalu tepatnya 29 Maret 2017. Berpetualang bersama seorang sahabat saya, Devi, kami menuju ke museum yang berlokasi di kawasan Kaliurang itu berbekal Google Map dan sepeda motor. Kami mendatangi Yogyakarta dengan niatan untuk menjelajahi lokasi wisata yang berbeda dari biasanya. Jadi tak ada jadwal ke pantai-pantai dan juga mampir ke candi. . Perjalanan lumayan melelahkan, mungkin sekitar dua jam namun karena suhu udara Kaliurang yang sejuk serta pengalaman di museum yang memesona, membuat kami tak menyesal jauh-jauh ke sana.

Sesampainya di sana, awalnya saya agak underestimate begitu waktu lihat bagian depan museum. Kok kesannya jadul banget dan juga agak seram ya? pikir saya. Terus terang sewaktu memutuskan untuk ke Ullen Sentalu, saya tak banyak browsing atau mencari informasi. Hanya berbekal sebongkah ingatan dari artikel yang pernah saya baca di surat kabar, maka saya memutuskan untuk pergi. Tapi setelah memasuki bagian loket, pesimisme saya buyar. Saya jatuh cinta dari patung perempuan yang terletak di lobi.

 

Dok. Pribadi (di bagian lobi museum)

Pengunjung harus menunggu sekitar lima belas menit sekali sebelum masuk. Rombongan pun dibatasi sampai sekitar belasan orang saja. Satu rombongan akan didampingi guide. Terlihat sekali jika manajemen museum ini sangat rapi dan karena didampingi guide, pengunjung tak harus membaca label-label benda pada museum. Dan perjalanan pun terasa asyik.

Sebelum memulai perjalanan mengelilingi museum, guide memberikan peraturan yang wajib dipatuhi. Pengunjung tidak boleh sembarangan mengambil foto di dalam ruangan dan tentu saja tidak boleh merusak properti museum yang rata-rata sudah tua. Kami akan diantar memasuki ruangan-ruangan yang menjadi saksi sejarah anggota kerajaan di kawasan Jawa Tengah terutama di wilayah Mataram. Nama Ullen Sentalu adalah singkatan dari “Ulating blencong sejatine tataraning lumaku” bermakna  “Nyala lampu blencong adalah petunjuk manusia dalam melangkah dan meniti kehidupan”. Lampu blencong adalah lampu minyak yang sering digunakan di pertunjukan wayang kulit. Mungkin dari filosofinya bisa saya simpulkan jika sebuah cahaya kecil di tengah gelap akan menjadi penerang langkah manusia dan salah satunya adalah dengan memahami sejarah masa lalu agar langkah kita ke depannya bisa lebih terarah.

Kami diajak untuk memasuki satu per satu ruangan yang didesain cederung gotik namun tak meninggalkan kesan tradisionalnya. Jalanan setapak yang sudah dipaving serta bagian sisi kiri dan kanan yang ditumbuhi tanaman serta pepohonan, membuat saya seperti benar-benar terlempar ke masa lampau. Ruangan-ruangan tersebut berisikan gamelan dan seni tari yang dipentaskan di kerajaan. Koleksi gamelan di Ullen Sentalu adalah pemberian dari salah seorang pangeran di Kasultanan Yogyakarta. Terdapat juga ruangan untuk pameran lukisan para anggota kerajaan dan tokoh penting di Dinasti Mataram. Saya juga menjadi semakin mencintai batik setelah mengetahui sejarah panjang batik tradisional yang dipakai di kerajaan zaman dulu. Batik-batik itu menunjukkan derajat si pemakai dan juga akan dipakai di acara apa. Maknanya sungguh tinggi apalagi batik sudah diakui sebagai budaya bangsa Indonesia oleh UNESCO.

Di sela-sela perjalanan dari satu ruang ke ruang lain, pengunjung akan dipersilakan beristirahat sejenak sambil minum teh tradisional yang katanya diminum para puteri keraton agar tetap cantik dan awet muda. Ada campuran jahe, kayu manis, dan gula jawa. Kami diperbolehkan memotret di ruang minum teh (sedihnya gadget saya yang dipenuhi foto di ruang ini tak terselamatkan karena dicopet orang September 2017 lalu).

Yang menjadi ruang favorit saya adalah Ruang Syair dan Ruang Putri Dambaan. Di Ruang Syair, saya bisa merasakan betapa puitisnya GRAj Koes Sapariyam atau sering disebut Puteri Tineke di saat menuangkan kegundahan hatinya akan cinta. Puteri dari Pakubuwono XI, Raja Solo, ini jatuh cinta pada seorang laki-laki yang tidak disetujui kedua orang tuanya. Lewat surat yang di antaranya juga ditulis dalam bahasa Belanda ini, saya jadi merasakan bagaimana resahnya seorang putri di kalangan keraton tak bisa mencintai sekehendak hati mereka. Dan akhirnya ia rela melepas status kebangsawanannya demi bersama si pujaan hati. Surat yang ditulis untuk kerabat-kerabatnya itu dibentuk dalam sajak  indah yang menyentuh. Terlihat sekali bakat sastra sang puteri dan pendidikan yang ia terima turut memperindah bahasanya.  Satu kalimat yang saya catat dan tertancap di benak adalah

 

“Cinta tanpa kepercayaan adalah suatu bualan terbesar di dunia ini.”

 

Beralih ke Ruang Putri Dambaan, saya terkagum-kagum pada Gusti Nurul, putri tunggal Mangkunegara VII. Gusti Nurul sejak remaja hingga beranjak dewasa memang memiliki wajah cantik, anggun khas Jawa dan profil tubuh yang langsing. Tak hanya itu, ia juga sangat pandai menari sampai pernah diundang secara khusus di acara kerajaan Belanda pada tahun 1937. Nah yang membuat saya jatuh cinta berat pada sosok puteri ini adalah sikapnya yang tegas menolak beberapa tokoh hebat Indonesia, salah satunya Presiden Soekarno karena prinsip yang ia pegang. Gusti Nurul menolak poligami meski ia dibesarkan di lingkungan kerajaan yang sudah awam melakukan praktek memiliki istri lebih dari satu. Puteri ini dikaruniai otak cerdas, pandai berkuda dan pada akhirnya ia memilih untuk menikah dengan seorang pria biasa yang bukan dari kalangan pejabat atau bangsawan.

Di akhir perjalanan, saya menyempatkan diri untuk berfoto di depan relief besar yang dipasang miring bersama Devi. Menurut guide, hal itu menunjukkan jika generasi masa mendatang akan berisiko mengalami pergeseran perilaku dan lupa akar budayanya. Sebagai generasi penerus kita wajib melestarikan budaya dan mengenali sejarah agar tak terlupakan.

Dok. Pribadi (miring-miring dikit)

Mengunjungi museum ini membuat saya makin menyukai budaya Jawa yang selalu kaya denga filosofinya. Ah nanti kalau ke Yogya lagi, saya pasti akan berkunjung ke Ullen Sentalu lagi dan menjelejahi wisata Kaliurang lainnya.

 

Narsis bareng novel saya yang terbit tahun lalu ‘Secret Heart’ 


Artikel ini pertama kali dipublikasikan di Kata Reffi. Bila kamu juga ingin membagikan artikel kamu di C2live, segera hubungi putra@c2live.com.

Ingin menularkan semangat positif ala Blogger? Yuk suarakan kepedulianmu pada laut Indonesia lewat lomba blog yang diselenggarakan oleh C2live sekarang juga!

Related Posts

 
Site Menu