nonton arsenal

Begini Ternyata Rasanya Nonton Bola di Kandang Arsenal

Tube yang saya naiki dari Westminster menuju Arsenal Tube Station, stasiun yang terdekat dengan Emirates Stadium, ternyata sudah penuh oleh ratusan manusia berkaos merah bertuliskan “Fly Emirates” di depannya. Kebanyakan adalah laki-laki muda, walaupun ada pula segelintir wanita dan anak-anak usia sekolah. Tujuan kami semua sama hari itu, menonton pertandingan Arsenal melawan Blackburn Rovers yang diadakan di stadion kebanggaan para The Gooners.

Di depan stasiun, keadaan tak jauh berbeda, penuh dengan lautan The Gooners. Mereka mengobrol, membeli makanan, bir, dan minuman soda, serta syal dan scarf bergambar dua senjata, lambang Arsenal.  Tak beda dengan di Indonesia ternyata, banyak juga pedagang kaki lima di sana. Mereka memenuhi trotoar dari stasiun hingga ke pintu gerbang stadion.

Pedagang kaki lima

Pertandingan dimulai jam 17.30. Langit masih sangat terang karena saat itu sudah masuk musim semi. Jam 17.00, setengah jam sebelum pertandingan sudah ada pengumuman yang meminta para penonton untuk masuk ke dalam stadion. Kami melirik tiket, memastikan di mana kami harus masuk. Emirates Stadium ini terdiri dari 4 section dan tiap section memiliki belasan pintu.  Ada 4 tier dan tiap tier punya ratusan block. Membuat kami bingung.

Arsenal Stadium memang stadion yang cukup besar. Kapasitasnya sekitar 60.361 kursi dan merupakan stadion terbesar keempat di Inggris. Selain lapangan pertandingan, di sini juga terdapat museum, toko dan kafe. Akhirnya setelah nyasar masuk toko (dan beli barang diskon), kami sampai juga di tempat duduk kami. Rupanya kami mendapat tempat duduk di sisi kiri gawang. Saya, yang belum pernah masuk ke stadion bola selain Senayan, langsung kegirangan karenanya.

Keshie, travelmate yang bareng ke London

Cafe dan restoran di lantai 2

Baca juga: Sebentar Lagi Piala Dunia Nih! Ingin Membuat Blog dengan Niche Sepak Bola?

***

Pertandingan berjalan alot. Tak ada gol yang tercipta di babak pertama. Namun semua orang di tempat saya tetap duduk tenang sepanjang pertandingan. Tak ada yang berusaha berdiri, apalagi menaikkan kaki di kursi. Mereka hanya sesekali berdiri berteriak ketika pemain arsenal nyaris membobol gawang Blackburn Rovers. Saya melihat sekeliling, di tribun lain terlihat sama. Yang atraktif hanya di tribun sebelah kiri, yang mungkin terdiri dari para hooligan yang fanatik.

Ketika turun minum, sebagian besar penonton keluar, menuju ke kafe yang ada di lantai 2 Emirates Stadium. Tapi saya, bersikeras tetap di tempat karena saya penasaran apa sebenarnya yang terjadi di lapangan saat istirahat. Ternyata, begitu para pemain masuk ke ruang ganti, petugas menyerbu lapangan, merapikan kembali rumput-rumput di tengah lapangan yang tercopot saat permainan. Lalu setelah itu, sprinkler otomatis menyirami seluruh lapangan. Di sudut lainnya, para pemain cadangan berlatih. Di sudut lain, Gunnersaurus Rex, maskot Arsenal berbentuk T-rex beratraksi sambal mengajak para penonton menyanyikan mars Arsenal.

Suara speaker dari komentator kemudian berbunyi, layar skor di ujung kiri kemudian menyala, menyoroti gambar seorang yang ternyata memenangkan hadiah malam itu: sebuah jersey bertanda tangan pemain Arsenal. Penonton bersorak-sorai. Tak lama, suara teriakan penonton terdengar makin riuh. Rupanya para pemain Arsenal sudah kembali ke tengah lapangan untuk melanjutkan 30 menit sisa permainan.

Rumputnya disiram lagi saat istirahat

Dukungan dari penonton rupanya tak cukup untuk membuat gol. Kedudukan hingga wasit meniupkan peluit panjangnya tak berubah: 0-0. Penonton di kanan kiri saya berteriak kecewa, katanya karena skor itu, Arsenal tak bisa menjadi juara musim itu. Rupanya, di saat yang sama, pesaing terberat saat itu, Manchester United memenangkan pertandingan dan berhasil menyabet trophy juara liga musim itu.

Saya mengajak kawan saya lekas pulang. Kekalahan Arsenal membuat saya takut kalau nanti terjadi kerusuhan seperti halnya yang sering saya lihat saat pertandingan di Indonesia. Namun rupanya, yang terjadi sebaliknya. Seluruh penonton memang kecewa, namun mereka tetap pulang dengan tenang dan akrab, seperti tak terjadi apa-apa. Yel-yel tetap berkumandang sepanjang jalan. Bahkan mereka tetap mengantri dengan  tertib di depan stasiun, walaupun antriannya sudah sepanjang 3 km. Luar biasa!


Artikel ini pertama kali dipublikasikan di Jilbab Backpacker. Bila kamu juga ingin membagikan artikel kamu di C2live, segera hubungi putra@c2live.com.

Ingin menularkan semangat positif ala Blogger? Yuk suarakan kepedulianmu pada laut Indonesia lewat lomba blog yang diselenggarakan oleh C2live sekarang juga!

 

Related Posts

Site Menu