pertanyaan wawancara

5 Prinsip Menyiapkan Pertanyaan untuk Artikel Wawancara

Gilang is a young Indonesian Content Writer. He has huge interest to social issues, digital marketing, and pop cultures.

Sebagai seorang blogger atau content writer, ada kalanya kamu perlu membuat sebuah artikel dari hasil wawancara dengan seorang narasumber. Selain untuk membantu pembacamu mendapat informasi yang valid, artikel wawancara ternyata juga penting agar blogmu memiliki ragam konten yang kaya dan enggak monoton.

Tentu saja menyiapkan artikel wawancara berbeda dengan menyiapkan artikel biasa. Kamu perlu menyiapkan pertanyaan wawancara yang akan dijawab oleh narasumber. Nah, agar pertanyaan wawancara yang kamu siapkan bisa fokus dan berbobot, mari terapkan 6 prinsip berikut:

1. Lakukan Background Check Narasumber

artikel wawancara

Ini adalah langkah pertama yang harus kamu lakukan sebelum mulai menyusun pertanyaan untuk narasumber. Luangkan waktu untuk mencari tahu siapa narasumbermu, bidang apa yang ia geluti, prestasi apa saja yang ia raih, hingga skill apa yang ia kuasai.

Memahami siapa narasumbermu akan sangat membantumu dalam menyiapkan pertanyaan wawancara. Jangan sampai kamu menanyakan hal-hal sepele yang sebenarnya bisa kamu cari tahu sendiri karena itu akan membuatmu terkesan kurang persiapan. Apalagi, kalau kamu sampai menanyakan hal-hal yang enggak berkaitan dengan bidang yang ia kuasai. Bisa-bisa narasumber malah kehilangan mood karena diberi pertanyaan yang enggak relevan.

2. Fokus pada Pembahasan Tertentu

Narasumber yang kamu wawancara mungkin memiliki segudang prestasi dan skillset yang luas, sehingga ada banyak potensi pertanyaan yang bisa kamu siapkan. Jika ini terjadi, ada baiknya kamu tetap fokus pada salah satu bahasan saja. Pilih salah satu hal dari narasumber yang menurutmu pembaca perlu tahu, dan ulas hal tersebut secara mendalam. Fokus bahasan yang kamu pilih bisa sesuatu yang sedang tren, atau mungkin sesuatu yang sesuai dengan niche blogmu.

Hal ini lebih baik dibanding kamu membahas banyak hal namun dengan kedalaman yang dangkal. Yang ada justru rasa ingin tahu pembaca enggak terjawab, dan artikel wawancaramu pun jadi sia-sia karena gagal memikat pembaca.

3. Berikan Pertanyaan Terbuka

Yang dimaksud dengan pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang memungkinkan narasumber menjawab secara elaboratif; bukan sebatas “iya” atau “tidak”.

Pertanyaan terbuka akan memancing narasumber untuk bercerita dan memberikan penjelasan secara lengkap. Dia bahkan juga akan memberikan opini-opini unik yang bisa kamu sampaikan kepada pembacamu. Apabila kamu berhasil membuat narasumber mengeluarkan sebuah opini yang unik dan impactful, blogmu akan memiliki added value yang enggak dimiliki blog-blog lainnya.

Baca juga: Hadapi Writer’s Block dengan 5 Ide Ini

4. Gunakan Struktur yang Rapi dan Logis

Kamu perlu mengatur pertanyaan-pertanyaanmu sehingga bisa memiliki alur yang apik dan mudah untuk dinikmati pembaca. Selain itu, alur pertanyaan yang runtut juga membuat narasumber nyaman menjawabnya, enggak melompat kesana-sini tanpa arah.

Jika kamu ingin membahas hal teknis, gunakanlah struktur piramida terbalik. Maksudnya, mulailah dari pertanyaan pokok yang menjadi tema bahasan. Setelah itu baru lanjutkan pertanyaan ke hal-hal lebih rinci. Namun, pastikan kamu menanyakannya secara santai, sehingga narasumber enggak merasa sedang diinterogasi.

Nah, apabila kamu menulis mengenai sesuatu yang berkaitan dengan human interest, mulai dari pertanyaan yang ringan agar narasumber enggak perlu berpikir terlalu dalam. Gali secara perlahan opini atau jawaban dia, hindari langsung menanyakan sesuatu yang terlalu menohok atau substansial.

5. Lahirkan Proses Tanya Jawab yang Mengalir

Memiliki draft pertanyaan wawancara tentu merupakan hal yang penting. Namun, jangan sampai kamu hanya terpaku pada pertanyaan itu saja. Bersikaplah luwes dalam melakukan wawancara, sehingga proses tanya jawab bisa menjadi lebih mengalir.

Jangan ragu untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara spontan, selama masih relevan dengan topik yang sedang kalian perbincangkan. Terlalu kaku dan terpaku pada draft pertanyaan akan membuat obrolan menjadi rigid, sehingga narasumber bisa merasa kurang nyaman dalam menjelaskan berbagai jawaban.


Di atas adalah beberapa tips yang bisa membantumu membuat pertanyaan wawancara. Dengan menerapkannya, pertanyaan yang kamu siapkan bisa menghasilkan jawaban yang padat dan relevan, sehingga bisa kamu olah menjadi sebuah artikel yang mendalam.

Selain materi pertanyaan, jangan lupa asah juga intonasi bicaramu, sehingga wawancara yang kamu lakukan bisa luwes dan enggak kikuk. Jika kamu bisa memadukan antara pertanyaan yang tepat, intonasi yang fun, dan kemampuan mengolah hasil wawancara menjadi artikel yang menarik, pasti pembacamu enggak akan kapok berkunjung ke blogmu, dan menunggu artikel wawancaramu yang berikutnya!

Sumber gambar: Springboard, Apartment Guide, Open Question, Go Banking Rates, Newspaper.

Related Posts

 
Site Menu