Perjalanan Menulis Hujan Mimpi, dari Tumblr menuju Rak Buku Best Seller

Awalnya ia membuat blog sebagai sarana curhat agar enggak banyak dibaca orang, namun kini tulisannya justru laris digandrungi pembaca bahkan hingga masuk kategori best seller. Itulah hal yang dialami oleh Stefani Bella, atau yang sekarang lebih dikenal dengan panggilan blognya, Hujan Mimpi (Janpi).

Janpi adalah seorang penulis muda yang cukup kreatif. “Sebatas Mimpi”, “Kala”, “Hujan Bahagia”, “Amor Fati”, dan “Elegi Renjana”. Total sudah 5 judul buku yang ia hasilkan sejauh ini. Menariknya, perjalanannya sebagai penulis dimulai dari menulis blog di Tumblr.

Penasaran sama kisahnya? Yuk, simak obrolan tim C2live dengan Hujan Mimpi berikut:

Menulis sebagai Sarana Self-Healing

Meskipun kini sudah sukses merilis 5 judul buku dan masuk di rak-rak best seller berbagai toko buku di Indonesia, ternyata awalnya Janpi menulis bukan karena ingin karyanya dilirik oleh penerbit. Ia menulis sebagai bentuk curhat dan self-healing, untuk menyalurkan berbagai perasaan yang ia alami.

“Sebagai seseorang yang cukup introvert, aku seringkali merasa takut untuk cerita ke orang lain. Akhirnya, aku memutuskan mulai menulis aja, deh. Tapi enggak mau di buku harian yang bisa ketauan orang. Mending di dunia maya aja, dengan nama samaran,” ucap Janpi saat C2live menanyakan apa sebenarnya hal yang membuat dia mulai menulis.

Meskipun begitu, bukan berarti proses menulis Janpi jadi lancar tanpa gangguan. Dengan menjadikan blognya sebagai media curhat, banyak reaksi yang berdatangan dari lingkungan sekitar. Ia kerap dikomentari bahwa tulisannya kerap galau dan sendu melulu.

Namun karena memang sejak awal Janpi menulis untuk dirinya sendiri, ia menyadari bahwa enggak semua komentar orang perlu diambil pusing. Selama ia masih merasakan manfaat menulis, maka ia akan terus menulis.

“Jadi semacam self-healing kali, ya? Buat aku pribadi nulis itu semacam obat paling ampuh untuk menyalurkan perasaan, dan aku juga jadi merasa senang ketika ada orang lain yang membaca tulisanku dan ternyata bisa mewakili perasaan tak tersampaikan mereka. Mungkin aku enggak bisa bantu banyak hal ke orang lain tapi mungkin tulisanku yang bisa membantu,” lanjut Janpi.

Baca juga: 4 Penulis yang Memulai Karier Sebagai Blogger

Peran Besar Tumblr dalam Karier Kepenulisan Hujan Mimpi

“Singkatnya, memang semua karena Tumblr,” ujar Janpi soal apa arti Tumblr dalam tumbuh kembangnya sebagai seorang penulis.

“Di Tumblr-lah aku akhirnya menemukan lingkungan yang bisa menerima aku dengan passion-ku dengan tangan terbuka”, tambahnya.

Saat pertama kali memutuskan ingin menulis di dunia maya, Janpi sempat mencari tahu tentang platform blog mana yang paling tepat dengan karakternya. Akhirnya, di tahun 2014 ia membuat sebuah blog di Tumblr. Kala itu Tumblr masih tergolong sepi dan banyak yang menjadikan Tumblr sebagai wadah curhat. Merasa cocok, Janpi pun menceburkan diri ke sana.

Merasa menemukan lingkungan yang nyaman dan suportif, Janpi pun jadi lebih produktif dalam menulis. Setiap hari selalu ada tulisan yang ia rilis. Ia pun mulai berkenalan dengan pembaca maupun penulis di Tumblr lainnya. Rupanya, konsistensi menulis dan interaksi dengan pembaca itulah yang akhirnya membuat ia dilirik penerbit. 2 hal penting yang tanpa sadar ia dapat berkat menulis di Tumblr.

Makassar International Writers Festival, Mimpi yang Terwujud

Buku kelima karya Hujan Mimpi yang berjudul Elegi Renjana mendapat respon yang sangat positif dari pembaca Indonesia. Enggak hanya berhasil menjadi best seller, buku tersebut akhirnya membawa Janpi untuk bisa hadir ke Makassar International Writers Festival 2018. Sebuah event yang sangat ia impikan.

“Jujur, aku udah mengidamkan bisa ke MIWF itu sejak 2015. Ingin bisa ikut kelas-kelas diskusi, bisa ketemu dengan penulis-penulis yang kuidolakan juga. Di 2018, alhamdulillah ada kesempatan untuk ke sana. Bahkan bukan hanya pengunjung, tapi bisa menjadi salah satu pengisi acara di sana untuk mewakili penulisnya Gradien Mediatama.”

Pengalaman berangkat dan menjadi pengisi di event sekelas MIWF tentu diimpikan oleh banyak penulis. Janpi sendiri enggak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk memperluas relasi dan belajar dari berbagai teman baru yang ia temui di sana. Janpi pun menyadari bahwa ia masih terus belajar dari penulis-penulis lainnya, agar karyanya bisa lebih matang lagi.

Tips Mencari Ide Menulis dan Melahirkan Karya yang Dilirik Penerbit

Menemukan ide tulisan sering menjadi tantangan yang merepotkan, apalagi untuk mereka yang menulis fiksi seperti Janpi. Kepada tim C2live, Janpi pun berbagi tips menemukan ide agar bisa melancarkan proses menulis.

Bagi Janpi, cara paling mudah dalam menemukan ide menulis adalah menangkap keresahan kita atau orang-orang disekitar kita. Kita harus aktif menjemput ide-ide tersebut, enggak hanya pasif menunggu ide datang di kepala. Mulai dari hal-hal yang dekat, pekalah dengan sekitar karena sebenarnya ada banyak ide cerita di sana.

Selain itu, Janpi merasa memiliki pesan yang ingin disampaikan juga penting, itu akan memudahkan kita untuk menulis tentang hal yang memang sesuai dengan ketertarikan kita.

“Tergantung hal apa yang mau aku sampaikan di tulisanku. Umumnya, tulisanku membawa tema yang serupa. Tentang keluarga, persahabatan, serta tentang penerimaan diri.”

Janpi pun melanjutkan bagaimana akhirnya ide tersebut bisa diolah menjadi karya yang bisa dilirik penerbit, hingga akhirnya bisa dicetak dan dipasarkan di toko buku secara luas. Dalam hal ini, Janpi merasa penulis zaman sekarang harus cerdik dalam memanfaatkan berbagai peluang yang ada, salah satunya dengan perkembangan dunia digital.

“Jalan untuk menjadi penulis di era sekarang ini sudah luas. Dari blog atau media sosial sekarang bisa jadi buku. Hanya saja, di tengah semua persaingan tentu penerbit makin mengetatkan syaratnya. Kalau mungkin pernah ditolak sama penerbit major, teman-teman masih bisa nyoba penerbit indie,” jelasnya.

“Dan jangan putus asa bila naskah ditolak, justru jadi bahan belajar untuk menulis lebih baik lagi dan menambah kualitas tulisan. Rajin-rajin juga mampir ke toko buku untuk tahu sebenarnya tulisan kita lebih pas di penerbit mana.”

Janpi pun menutup diskusi dengan C2live dengan pesan bahwa keinginan mengejar mimpi menjadi penulis harus diimbangi dengan konsistensi dan kejujuran dalam berkarya. Kita harus nyaman dulu dengan apa yang kita tuliskan, sebelum kita bisa membuat orang lain nyaman membaca karya kita.

Baca juga: Tips Menulis Blog yang Dilirik Penerbit ala Editor GagasMedia


Temukan alasan kenapa kita menulis, konsisten berkarya, dan enggak mudah menyerah meskipun lingkungan belum mendukung. Ketiga hal itu adalah pelajaran yang bisa kita ambil dari perjalanan Hujan Mimpi. Bagaimana ia yang awalnya menulis di Tumblr sebagai sarana curhat, namun kini ia bisa menjadi pengisi di acara Makassar International Writers Festival 2018.

Selain itu, pesan penting yang selalu ditekankan oleh Janpi adalah nikmati proses menulis. Karena apabila kamu sendiri enggak menikmati prosesnya, menulis justru akan menjadi beban. Jadi, carilah kesenangan dalam menulis, jangan terburu-buru ingin menggapai mimpi.

Selama kamu konsisten dan mau terus belajar, satu per satu mimpi-mimpimu akan kamu raih, dan kamu pun siap mengejar mimpi yang lebih tinggi lagi.

Sumber gambar: Instagram Hujan Mimpi.

Related Posts

Site Menu