Struktur-Penulisan

Membangun Struktur Penulisan yang Baik Bisa Menjadi Faktor Penting sebagai Peningkat Trafik Blog, lho

Kamu punya konten yang menarik, tapi masih kelimpungan menyajikannya? Mungkin kamu belum menguasai struktur penulisan yang baik. Jangan salah, bukan hanya bangunan saja, tulisan juga punya struktur yang sebaiknya kamu ikuti.

Menulis bukan hanya untuk mencurahkan gagasanmu, melainkan juga membuat pembaca mengerti apa yang ingin kamu sampaikan. Kalau konten atau gagasanmu sudah baik, tapi struktur penulisan yang kamu sajikan amburadul, siapa yang tertarik baca?

Apa yang Ingin Kamu Sajikan? Informasi, Argumentasi, atau Narasi?

cara menulis blog

Oke, sekarang apa yang ingin kamu tulis dalam blogmu? Mendeskripsikan sesuatu hal (informatif), menceritakan sebuah peristiwa (naratif), atau memberikan argumen-argumen fresh dan orisinalmu tentang sebuah fenomena (argumentatif)? Ternyata, ketiga jenis tulisan itu punya struktur penulisan sendiri, lho.

Memang nggak harus benar-benar sama dengan rumusan yang ada. Namun, senggaknya kamu bisa berlatih menulis secara terstruktur supaya pembaca bisa menangkap ide cemerlangmu, kan! Setiap tulisan senggaknya terdiri dari 3 bagian: pembuka, isi, dan penutup.

Pembuka, pada dasarnya, menyajikan hipotesis-hipotesis yang akan kamu bahas di bagian isi. Sementara itu, bagian isi menjelaskan hipotesis dan bagian penutup menyajikan kesimpulan yang kamu dapatkan.

Tulisan Naratif dan Argumentatif

cara menulis blog

Khusus untuk tulisan naratif, kamu bisa coba struktur penulisan yang disusun oleh Labov dan Waletzky (1967, seperti dalam Renkema 2004:194), yaitu (1) orientasi; (2) komplikasi; (3) evaluasi; (4) solusi; dan (5) koda.

Orientasi mengandung perkenalan tentang tokoh, latar, dan unsur lainnya yang akan kamu ceritakan. Komplikasi mengandung masalah yang ingin kamu sampaikan dan evaluasi. Setelah mengutarakan masalah-masalah itu, berikanlah solusi. Langkah nomor 5 sangat jarang digunakan karena hanya untuk menutup cerita seperti, “Begitulah ceritanya.”

Untuk menulis sebuah argumen, kamu harus senggaknya memasukkan 5 komponen ini: (1) klaim; (2) bukti; (3) landasan; (4) bukti penguat; (5) modalitas besar-kecilnya klaim; dan (6) sanggahan (Toulmin, 1958).

Intinya, jangan langsung melempar argumen panas, tetapi dahului dengan sebab-sebab atau alasan logis dari pembahasan fenomena yang kamu angkat. Kemudian bantu pembaca untuk memahami penjelasan kamu dengan perbandingan atau analogi. Jangan lupa untuk berikan sumber-sumber terpercaya supaya argumenmu semakin solid.

Apa Akibat Struktur Penulisan yang Acak-acakan?

cara menulis blog

Kalau kamu mengabaikan struktur penulisan yang standar, bisa jadi pembaca nggak menemukan poin yang ingin kamu sampaikan. Padahal, sebuah tulisan yang baik adalah tulisan yang dapat dimengerti oleh pembaca (Renkema, 2004:182). Selain itu, tulisan yang baik mengandung kekonsistenan pemilihan kata dan layout, kebenaran informasi, dan kebenaran tulisan alias nggak saltik– salah ketik.

Kalau pembaca nggak menemukan poin tulisanmu, pembaca akan kehilangan minat membaca. Akhirnya, blogmu akan sepi pembaca. Lantas, kepada siapa kamu mencurahkan ide brilianmu? Mau diapakan konten-konten emas yang semestinya jadi viral? Sayang banget, kan!


Jadi, kamu nggak mau menyepelekan struktur penulisan lagi, kan? Bukan hanya layout blog yang harus menarik, tapi cara kamu menyampaikan gagasanmu juga perlu disusun seapik mungkin.

Coba bayangkan kamu mengobrol dengan seseorang yang suka hilang fokus dan nggak bisa memperkirakan waktu punch line? Rasanya kentang banget, kan? Jangan sampai hal itu terjadi pada kamu, ya! Mulai tata cara berpikir dan cara menulismu dari sekarang, yuk! Kamu bisa mendapatkan berbagai tips seputar menulis dan blogging dengan mengunjungi C2live dan baca berbagai artikel di dalamnya.

Sumber: The ConversationNPR, The Mary Sue, GIPHY

Related Posts

Site Menu