4 Prinsip Utama untuk Menjadi Freelancer yang Produktif

Pada Oktober 2017 lalu, Upwork merilis hasil riset yang menyatakan bahwa hari ini 35% dari tenaga kerja Amerika Serikat dan 16,1% dari tenaga kerja Uni Eropa bekerja sebagai freelancer. Hal ini menunjukkan bahwa freelancing adalah pekerjaan yang mulai banyak diminati oleh kaum pekerja di era ini. Apalagi didukung dengan semakin berkembangnya teknologi yang memudahkan orang untuk saling terhubung dan bekerja dari manapun dan kapanpun.

Di Indonesia sendiri, jumlah freelancers juga terus meningkat meskipun belum setinggi angka-angka di atas. Jika kamu kebetulan juga merasa freelance sesuai dengan pola kerja yang kamu inginkan, ada baiknya kamu menyimak 5 tips ini agar kamu bisa menjadi seorang freelancer yang produktif.

1. Dokumentasikan Semua Project dengan Rapi

freelancer-produktif-1

Sebagai seorang freelancer, portofolio akan selalu menjadi senjata utama yang bisa kamu gunakan untuk mencari klien. Sayangnya, masih banyak freelancer yang jarang meng-update portofolionya. Portofolio baru buru-buru dibenahi ketika ada klien potensial yang mendekat. Alhasil, si freelancer bingung sendiri harus menampilkan project yang mana untuk bisa memikat hati klien. Cara seperti inilah yang harus kamu hindari.

Karenanya, usahakanlah untuk selalu memperbaharui portofolio setiap kali kamu menyelesaikan suatu project. Dengan cara ini, kamu jadi nggak terburu-buru, dan bisa menekankan strong point yang ada di setiap project-mu dengan rapi. Bahkan, kamu juga bisa membuang beberapa project yang kamu rasa nggak relevan dengan kebutuhan kilen, sehingga portofoliomu bisa tetap simple tapi tepat sasaran. Dengan ini, klien akan jadi lebih mudah memahami skill dan pengalaman yang kamu miliki. Hal yang susah kamu capai jika kamu menyusun portofolio dengan buru-buru dan sembarangan.

2. Tempat Kerja Menentukan Kinerja

Salah satu kemewahan yang bisa kamu miliki dari menjadi seorang freelancer adalah kebebasan untuk bekerja di manapun dan kapanpun. Banyak freelancer yang menggunakan kebebasan ini untuk bekerja di kamar tidur masing-masing. Selain itu, tempat kedua yang sering digunakan adalah coffee shop. Dua pilihan itu banyak dipilih karena biasanya menyediakan tempat berkoneksi internet dengan harga terjangkau yang bisa digunakan untuk bekerja selama berjam-jam.

Meskipun sekilas terlihat seperti opsi yang menarik, namun tempat tersebut sebenarnya memiliki banyak distraksi yang bisa menggganggu produktivitas kerjamu. Di kamar, godaan untuk bermalas-malasan dan menunda pekerjaan akan selalu ada, belum lagi jika kamu disibukkan dengan berbagai kegiatan rumah lainnya. Sementara di coffee shop sering kali terlalu ramai sehingga kamu terdistraksi dengan banyaknya orang lalu-lalang atau suara obrolan sekitar. Distraksi-distraksi kecil seperti ini sering diabaikan karena dianggap nggak terlalu mengganggu. Padahal, jika diamati lebih lanjut, distraksi semacam ini pasti menurunkan produktivtasmu.

Nggak hanya itu, jika kamu terbiasa untuk lambat dalam bekerja atau malah suka menunda pekerjaan dan baru mengerjakannya sambil begadang di malam hari, lama kelamaan etos kerja yang kamu miliki pun ikut rusak. Sehingga secara kualitas, performamu pun sangat menurun. Untuk menghindari ini, kamu bisa menggunakan coworking space untuk mendapatkan suasana kerja yang kondusif tapi tetap casual dan fleksibel. Atau kalau ada ruangan lebih di rumahmu, kamu bisa menggunakannya sebagai ruang kerja sehingga kamu nggak bekerja di kasur ruang tidur. Mampu menjaga produktivitas dan etos kerja adalah hal yang wajib kamu pertahankan meskipun kamu seorang freelancer.

Baca juga: 5 Tips Menulis Bagi Pekerja Sibuk

3. Pelajari Skill Set dan Trend Terbaru

Menjadi freelancer artinya kamu bekerja di bawah pengawasan yang cukup minim. Satu-satunya yang bisa menilai kemampuan dan performamu sehari-hari adalah kamu sendiri. Klien nggak akan banyak mencampuri kinerja harianmu karena mereka hanya peduli apa yang mereka mau bisa terpenuhi. Meskipun terdengar lebih bebas, kalau kamu nggak rutin mengevaluasi diri sendiri, kamu bisa jadi tanpa sadar tertinggal dengan perkembangan para pekerja lain. Kebebasan ini bisa merugikanmu jika kamu nggak hati-hati menyikapinya.

Untuk menghindari hal ini, kamu wajib mengenal perkembangan dari industri dan profesi yang kamu tekuni. Misalkan kamu seorang programmer, pastikan kamu tetap kenal bahasa-bahasa pemrograman yang banyak dibutuhkan hari ini. Jika kamu seorang content writer, kamu harus mengenali SEO atau tipe-tipe artikel yang banyak digunakan oleh company yang sudah sukses. Jangan hanya puas dengan skill yang sudah kamu miliki. Dengan tingkat kompetisi yang tinggi di zaman ini, merasa puas dan lupa berkembang adalah sebuah pantangan yang wajib kamu hindari.

4. Jalin Komunikasi yang Berkelanjutan

Satu lagi hal yang sering diabaikan oleh para freelancer adalah soal after sales service. Sering kali begitu suatu project selesai dan perkara pembayaran sudah beres, para freelancers sudah nggak lagi berhubungan dengan klien-klien mereka. Padahal, menjalin komunikasi ke berbagai mantan klien adalah hal sederhana yang menyimpan sejuta manfaat.

Dengan menjaga komunikasi, kamu menjaga peluang agar klien itu kembali menggunakan jasamu jika suatu hari mereka membutuhkan. Apalagi jika kamu bekerja dengan klien yang memang sudah mengenal dan puas akan kinerjamu, kamu pun bisa lebih leluasa dalam menentukan tarif tiap project. Selain itu, tetap adanya komunikasi juga bisa memberi kesan baik karena klien merasa diperhatikan dan kebutuhan mereka terpenuhi. Dan yang terpenting, after sales service bisa menjadi faktor penting yang membuat klienmu merekomendasikanmu ke teman atau kolegamu.

5. Abaikan Klien yang Kelewat Ribet

Sebagai seorang freelancer, kamu diharuskan mencari dan berurusan dengan klien sendiri. Terkadang, kamu ketemu dengan klien yang ribet dan rewel. Klien seperti ini biasanya banyak minta revisi diluar kesepakatan awal, atau bahkan suka kebingungan sendiri sama apa yang dia mau. Klien yang kayak gini nih yang nggak cuma bikin capek secara fisik, tapi juga secara mental.

Nah, kalau kamu kebetulan dapet klien yang kayak gini, kamu harus hati-hati. Kamu harus punya batasan seberapa jauh kamu mau direpotin sama klien yang nggak jelas tujuannya. Kalau kamu merasa klien sendiri nggak kunjung paham apa yang mereka mau, ada baiknya kamu menyudahi kerja sama dengan mereka. Hal itu untuk mencegah waktumu terbuang banyak hanya untuk menyelesaikan satu project ketika kamu seharusnya bisa mengerjakan project-project lainnya. Ingat, ada banyak klien lain yang sebenarnya membutuhkan jasa dan tenagamu.

Yang perlu dicatat jika kamu memang akhirnya memutuskan untuk mengakhiri kerja sama, tetap pastikan kamu mengakhirinya dengan profesional. Jangan memutuskan secara sepihak atau menghilang begitu saja. Sampaikan dengan jelas alasanmu kenapa merasa nggak lagi sanggup bekerja sama dengan klien.

Baca juga: Suka Dengar Lagu Sambil Kerja?


Sama halnya seperti bekerja kantoran, bekerja sebagai seorang freelance juga memiliki tantangan tersendiri. Mulai dari cara mencari klien, ketepatan memenuhi deadline, hingga cara menjaga relasi adalah hal-hal yang sering mengganggu karier pekerja freelance.

Tapi hal itu bukan tanpa solusi. Dengan memiliki portofolio yang rapi dan jelas, skill set yang relevan, serta kemampuan berkomunikasi dengan klien yang tepat, bisa jadi kariermu sebagai seorang freelancer lebih cepat berkembang dibanding pekerja kantoran kebanyakan. Apalagi jika kamu bisa terus menjaga standar produktivitasmu di level tertinggi sehingga kamu bisa mengerjakan dua atau tiga project sekaligus, bukan hal aneh jika kariermu cepat melejit. Bagaimana? Merasa tertarik dan siap menjadi freelancer setelah membaca artikel ini?

Ohiya, jangan lupa ikuti juga kontes menulis “Perempuan Juara di Lingkungan Kerja” yang diadakan oleh C2live. Tunjukkan kepedulianmu terhadap kaum perempuan dengan berbagi cerita/ide inspiratif bahwa perempuan juga bisa jadi juara di lingkungan kerja! 

Sumber: PakWired, Pinterest, Hinex, Six and A Half Hours Consulting, Chamber, Go High Brow.

Related Posts

Site Menu