calon narasumber

Dos dan Don’ts Ketika Menghubungi Calon Narasumber!

Saya salah satu blogger yang tergabung dalam komunitas C2live.com

Dalam proses penulisan sebuah artikel, seringkali kamu membutuhkan pendapat atau penjelasan dari para ahli. Dengan masukan dari ahli, informasi yang kamu sampaikan melalui artikelmu akan menjadi lebih kredibel dan akurat. Untuk itulah, kamu harus memahami cara yang tepat untuk mencari dan menghubungi calon narasumber yang bisa menjadi target wawancaramu. Simak di sini beberapa dos and dont’s dalam menghubungi calon narasumber!

Dos

1. Memastikan Narasumber yang Tepat untuk Penulisan Artikel

calon narasumberSumber: Entrepreneur
 

Hal pertama yang harus kamu lakukan sebelum menghubungi calon narasumber adalah melakukan pemetaan atau seleksi berdasarkan kebutuhan menulismu. Pertama-tama, pahami betul jenis dan topik artikel yang akan kamu tulis. Misalnya, ketika kamu mau menulis artikel tentang traveling, angle seperti apakah yang kamu inginkan? Apakah tren berwisata ala backpacker? Ataukah tips berwisata untuk keluarga?

Masing-masing topik membutuhkan ahli di bidang yang berbeda. Tentu kamu tidak bisa mewawancarai seorang travel blogger untuk menceritakan tentang tips wisata keluarga apabila ia sendiri sering berkelana sendirian. Untuk itulah, selain paham terhadap topik yang mau kamu tulis, kamu pun perlu melakukan background research tentang calon narasumber yang kamu inginkan. Pastikan mereka memiliki kapabilitas atau keahlian yang cukup untuk menjadi suara ahli di bidang yang kamu inginkan secara spesifik. Selain membuatmu bisa mendapatkan data yang lebih akurat, hal ini juga akan memudahkanmu dalam proses wawancara dan penulisan artikel nanti.

2. Menghubungi dengan Channel Paling Formal Terlebih Dahulu

calon narasumberSumber: MangoTraining
 

Setelah memastikan bahwa kapabilitas calon narasumber telah sesuai dengan topik artikel, kini saatnya menghubungi mereka untuk meminta kesediaan agar dapat diwawancarai. Apabila kamu sudah mengenal atau sudah dekat dengan calon narasumber, tentu hal ini akan lebih mudah karena kamu hanya perlu menghubungi mereka secara langsung lewat instrumen apapun. Namun, jika kamu hendak mewawancarai calon narasumber yang sama sekali belum kamu kenal, maka usahakanlah untuk memulainya dengan channel yang paling formal sehingga terkesan profesional, yaitu e-mail.

Berkaitan dengan hal tersebut, bagaimanapun juga, kamu harus tetap menjunjung tinggi profesionalisme. Untuk itulah, gunakan format e-mail yang sopan dengan etika jurnalistik yang tepat. Beberapa hal yang sebaiknya kamu masukkan dalam e-mail antara lain: topik artikel, deadline artikel, preferensi metode wawancara, dan ekspektasimu terhadap hasil wawancara. Jika kamu telah membuat artikel wawancara sebelumnya, kamu pun bisa melampirkan agar calon narasumber memiliki gambaran yang utuh.

Jika kamu nggak memiliki e-mail calon narasumber yang bersangkutan, Whatsapp ataupun aplikasi pesan lain juga bisa digunakan dengan tetap menggunakan bahasa yang sopan dan profesional. Walaupun bahasa kasual membuatmu lebih dekat, namun untuk di fase awal, jangan mencoba sok kenal atau sok akrab agar tidak membuat mereka jengah.

3. Pilih Metode Wawancara sesuai Preferensi Calon Narasumber

calon narasumberSumber: Minico
 

Setelah calon narasumber menyatakan kesediaan untuk diwawancarai, kamu pun bisa mengkonfirmasi preferensi metode wawancara yang mereka pilih. Beberapa cara yang umum adalah: bertemu langsung, telepon, chat via Whatsapp, atau via e-mail. Terkadang, ada narasumber yang tidak nyaman berbicara lewat telepon, atau tidak punya waktu untuk bertemu langsung. Sebagai pewawancara, tentu kamu harus menyesuaikan dengan preferensi narasumber agar komunikasi bisa mengalir dengan lebih baik.

Jangan lupa, apapun metode wawancara yang dipilih, kamu harus menyiapkan daftar pertanyaan terlebih dahulu. Daftar pertanyaan harus akurat dan tepat sasaran, jangan terlalu melebar ke hal-hal yang tidak ada kaitannya. Selain itu, gunakanlah kalimat tanya yang eksploratif seperti, “bagaimana”, “apa saja”, atau “bisa dijelaskan”, sehingga narasumber bisa lebih bebas menjawab dengan jawaban panjang. Ini penting agar kamu pun bisa mendapatkan material yang cukup variatif untuk diolah sebagai tulisan.

4. Bersikap Ramah dan Profesional

calon narasumberSumber: EW
 

Salah satu kunci kesuksesan dalam memenangkan hati calon narasumber adalah dengan bersikap ramah namun tetap profesional. Apabila kamu bisa berperilaku ramah dan bersikap hangat terhadap narasumber, tentu mereka pun dapat bercerita lebih leluasa dan lebih nyaman. Sementara itu, batas profesionalitas pun harus tetap dijaga. Jangan sampai kamu melontarkan candaan yang kelewat batas hanya karena merasa sudah kenal baik. Intinya: keramahan dan profesionalitas harus seimbang!

Dont’s

1. Memaksakan Kehendak pada Narasumber

calon narasumberSumber: Fortune
 

Sebagai pewawancara, kamu harus menghormati hak dan batasan yang ditetapkan oleh calon narasumber. Apabila ada calon narasumber yang menolak diwawancarai karena satu dan lain hal, maka jangan memaksakan kehendakmu karena bisa merusak hubungan baik. Begitu juga apabila kamu telah janjian untuk mewawancarai lewat telepon di jam yang telah ditentukan, jangan sampai terlambat atau bahkan lupa. Hal ini bisa membuatmu terlihat tidak profesional dan membuat calon narasumber enggan untuk membantumu.

Proses wawancara adalah proses yang tricky. Jika kamu melakukannya lewat telepon atau bertemu langsung, kamu harus pintar-pintar membaca gestur, intonasi, ataupun ekspresi si narasumber, terlebih jika kamu mengajukan beberapa pertanyaan yang bersifat personal. Begitu narasumber terkesan tidak nyaman, perhalus pertanyaanmu atau alihkan ke topik lain yang lebih ringan. Dengan begitu, proses wawancara bisa berjalan lebih lancar.

2. Memotong Penjelasan Narasumber

calon narasumberSumber: Toughtco
 

Hal lain yang harus kamu hindari dalam proses mewawancarai narasumber adalah menginterupsi di tengah bincang-bincang. Jika narasumber belum selesai menjelaskan kalimatnya, tahan dirimu dan jangan sampai buru-buru memotongnya. Selain tidak sopan dan bisa menyinggung perasaan, interupsi ini juga bisa berdampak buruk pada artikelmu karena kamu belum mendapatkan informasi yang lengkap dari narasumber. Sebaiknya dengarkan penjelasan mereka hingga tuntas, simpulkan dan konfirmasi lagi apa yang mereka maksud, hingga kamu memahami betul apa yang hendak disampaikan oleh narasumber.

3. Menyimpulkan Perkataan Narasumber secara Sepihak

calon narasumberSumber: USC Career Center
 

Sebagai seorang pewawancara, ketika menghubungi calon narasumber, kamu harus selalu mengambil sisi objektif. Untuk mendapatkan hasil wawancara yang lengkap dan maksimal, gunakanlah recorder atau alat perekam agar semua jawaban dapat tersimpan dengan aman. Namun, jika kamu melakukan wawancara via teks (seperti Whatsapp dan e-mail), ada hal-hal rancu yang mungkin menyebabkan miskomunikasi. Untuk itu, jika ada hal yang masih kamu ragukan, kamu harus mengkonfirmasi ulang pada narasumber yang bersangkutan. Ini penting untuk menghindari salah informasi atau maksud yang keliru dari jawaban narasumber.

Selain itu, kamu harus menggunakan statement lengkap yang diberikan narasumber. Terutama jika topik artikelmu sensitif, jangan sampai kamu memotong dan memilah perkataan narasumber hanya semata-mata untuk mendukung argumen yang kamu inginkan. Ini disebut dengan teknik framing dan bisa membuat artikelmu menjadi tidak kredibel.


Nah, itulah beberapa dos and dont’s dalam menghubungi calon narasumber untuk penulisan artikelmu. Mudah, bukan? Dengan panduan singkat tadi, kini kamu telah mendapatkan gambaran untuk proses wawancaramu berikutnya. Apabila kamu telah terbiasa melakukan wawancara, maka kamu pasti akan semakin jago mencari dan menghubungi calon narasumber untuk berbagai topik bahasan. Yang lebih penting lagi, kamu harus selalu menjaga hubungan baik dengan narasumber yang pernah kamu hubungi. Siapa tahu di lain waktu kamu akan membutuhkan bantuan mereka lagi, bukan?

Semoga tips-tips ini bisa membantumu menulis artikel dan blog interview dengan lebih baik, ya! Kalau kamu membutuhkan tips-tips lebih lanjut untuk mengelola blog atau membuat tulisan yang lebih bagus, yuk, langsung mampir ke C2live!

Related Posts

 
Site Menu