Menulis-artikel-wawancara

Menulis Artikel Wawancara Lebih Menarik Dengan 5 Tips Ini!

Artikel ini bukan diperuntukkan bagi para jurnalis yang pasti sudah jago melakukan wawancara dan menulis artikelnya, melainkan untuk teman-teman penulis yang belum biasa menulis artikel wawancara agar bisa mendapatkan laporan hasil wawancara yang memuaskan.

Enggak semata-mata mencantumkan apa yang dikatakan narasumber, menulis artikel wawancara sebenarnya punya seninya tersendiri. Berikut hal-hal sederhana yang perlu kamu perhatikan untuk menulis artikel wawancara yang menarik!

1. Luangkan sejenak waktu untuk menjernihkan pikiran

menulisa artikel wawancara

Ketika kamu hendak mulai menulis sebuah artikel wawancara, chances are, kamu sudah melakukan wawancaranya, bukan? Jika ya, sebaiknya kamu tidak langsung menuangkan hasil wawancara kamu dalam bentuk artikel segera setelah melakukan wawancara tersebut. Sebab, banyaknya informasi yang diterima bisa membuatmu bingung sehingga berpotensi membuat tulisan menjadi kabur.

Jadi, hal pertama yang perlu kamu lakukan adalah meluangkan sejenak waktu untuk menjernihkan kembali pikiranmu. Pikirkan bagaimana cara terbaik untuk menyortir ulang dan menyampaikan apa informasi yang kamu terima. Dengan begitu, kamu jadi bisa mengolah hasil wawancara yang didapatkan dengan lebih maksimal. Menulis artikel wawancara pun jadi bisa dilakukan dengan lebih lancar setelah melalui tahap ini.

2. Tinjau kembali hasil wawancaramenulisa artikel wawancara

Seletah meluangkan waktu dan mempersiapkan diri untuk mulai menulis artikel wawancara, cobalah untuk meninjau kembali hasil tanya-jawab yang telah kamu lakukan dengan narasumbermu. Tahap ini sangat perlu dilakukan dibandingkan dengan hanya mengingat-ingat saja proses wawancara yang telah kamu lalui.

Pasalnya, kita perlu menyadari bahwa kemampuan memori kita sebagai manusia sangat terbatas. Jika kamu hanya mengandalkan ingatan akan wawancara tersebut untuk dituangkan dalam sebuah artikel, kemungkinan kamu bisa melewatkan berbagai poin menarik yang seharusnya bisa kamu bagikan kepada para pembaca. Jika hal itu terjadi, artikel wawancara yang kamu hasilkan malah jadi tidak mendalam dan elaboratif, sehingga tidak memiliki kualitas yang optimal.

Baca juga: 7 Jenis Pertanyaan Jitu yang Bisa Kamu Layangkan untuk Mendapatkan Konten Brilian

3. Tandai bagian yang menarik, sisihkan yang tidak perlu

Menulis Artikel Wawancara

Setelah kamu memindai ulang hasil wawancara yang kamu miliki, selanjutnya tandailah bagian-bagian menarik dari jawaban yang diberikan oleh narasumbermu. Hal ini bisa menjadi poin plus untuk dicantumkan ketika menulis artikel wawancara nanti, sehingga tulisanmu memiliki nilai lebih di mata pembaca. Apalagi kalau jawaban yang diberikan sangat unik, potensinya untuk menjadi materi yang insightful pun akan lebih besar.

Namun demikian, jangan sampai kamu keasyikan dan menyertakan poin-poin yang tidak relevan ke dalam draft-mu. Sebelum memulai wawancara, tentunya kamu sudah menentukan topik umum dari artikel yang akan kamu tulis, bukan? Nah, jika kamu mendapat jawaban-jawaban yang sekiranya tidak berkaitan dengan ulasan topikmu, ada baiknya kamu menyisihkan bagian tersebut untuk keperluan di lain waktu. Jadi, ketika kamu akan mulai menulis artikel wawancara nanti, kamu bisa menuangkan ulasan yang tetap fokus membahas sebuah topik tertentu secara spesifik.

4. Rancang kerangka struktural untuk artikel kamu

menulis artikel wawancaraDari hasil sortiran yang kamu miliki tadi, kamu pasti sudah memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai poin-poin penulisan yang akan kamu tuangkan, bukan? Sama dengan jenis-jenis artikel lainnya, dalam menulis artikel wawancara, kamu juga perlu menyusun struktur penulisan yang akan kamu pakai sebagai acuan alur tulisanmu.

Ini juga ditujukan agar ketika menulis artikel wawancara nanti, fokus tulisanmu agar tetap berada pada inti pembahasan yang hendak kamu ulas. Jadi, persempitlah informasi yang kamu miliki tadi, sehingga kamu dapat menyampaikan ulasan secara spesifik dan tepat sasaran. Ini akan mencegah pembahasan yang akan kamu sampaikan menjadi terlalu luas.

Untuk mempermudah tahap ini, kamu bisa melakukan pembagian terhadap hasil tinjauan wawancara tadi menjadi beberapa subheadings. Pembabakan ini akan berfungsi sebagai outline dari poin-poin yang perlu kamu bahas. Dari setiap poin-poin tersebut, barulah kamu bisa memetakan ide utama dari setiap paragraf.

Baca juga: Ini Dia 7 Ciri Narasumber yang Baik untuk Diwawancarai!

5. Sertakan quotes yang menarik dari narasumber

menulis artikel wawancara

Apakah yang membuat artikel wawancara berbeda dengan artikel biasa pada umumnya? Ya, artikel wawancara memiliki daya tarik tersendiri karena adanya pandangan pribadi dari narasumber terkait. Oleh karena itu, dalam menulis artikel wawancara, sebaiknya kamu mencantumkan kalimat orisinal dari narasumber yang kamu wawancarai.

Untuk membuat artikelmu terkesan lebih dinamis, cobalah untuk mencantumkan beberapa kalimat tersebut dalam bentuk kutipan langsung. Dengan bentuk quotes seperti ini, kalimat tersebut akan terlihat lebih eye-catching di mata pembaca.

Namun, tidak sembarang kalimat bisa kamu ambil untuk dijadikan quotes. Pilihlah kalimat yang memiliki pesan unik ataupun makna mendalam sehingga benar-benar dapat menjadi bagian yang menarik dan inspiratif dalam tulisanmu.

6. Sertakan informasi visual yang menarik

menulis artikel wawancara

Hal yang satu ini juga perlu kamu perhatikan dalam menulis artikel wawancara. Sebab terkadang, artikel wawancara bisa menjadi suatu tulisan yang panjang karena banyaknya informasi yang diberikan oleh sang narasumber. Karena itu, selain menyampaikan rangkuman naratif dari narasumber, kemaslah juga informasi yang kamu dapatkan dalam berbagai bentuk elemen visual.

Maksudnya seperti apa? Cara paling sederhana, kamu bisa mencantumkan gambar utama yang relevan dengan topik pembahasanmu. Carilah gambar yang unik dan jelas resolusinya, agar benar-benar bisa menarik perhatian pembacamu. Bila memungkinkan, tambahkan juga video wawancara atau video lainnya yang juga berhubungan dengan ulasan artikelmu. Selain itu, artikelmu bisa lebih mantap lagi dengan adanya infografis yang memuat data-data penting!

Baca juga: 7 Tips Jitu untuk Menjadikanmu Pewawancara yang Oke di Mata Narasumber


Bagaimana, Guys? Apakah kamu sudah mendapat gambaran yang lebih jelas mengenai bagaimana cara menulis artikel wawancara dengan lebih baik? Bagaimana perbedaannya dengan wawancara sederhana yang pernah kamu lakukan dulu di bangku sekolah?

Sebenarnya, dalam menulis artikel wawancara, kuncinya adalah menyampaikan pandangan orisinal dari si narasumber kepada pembaca. Wawancara itu sendiri diperlukan untuk memastikan validasi dari informasi yang kamu sampaikan. Namun demikian, kamu tetap harus bisa cermat dalam memilah informasi yang didapat agar artikelmu tetap terstruktur dan berkualitas. Dengan begitu, siapa tahu tulisanmu nanti bisa dijadikan contoh artikel hasil wawancara untuk dimanfaatkan oleh rekan-rekan penulis lain.

Anyway, setelah selesai menulis artikel wawancara kali ini, ada baiknya kamu mengumpulkan hasil tulisanmu ke dalam satu tempat untuk dijadikan portofolio. Bagaimana caranya? Manfaatkan saja fitur portofolio dari C2live! Caranya mudah, kamu tinggal melakukan pendaftaran unggah semua tulisan-tulisan kamu dalam bentuk yang rapi dan sederhana!

Enggak cuma itu, kamu juga bisa mendapatkan informasi mengenai kompetisi dan kampanye blogger terkini, lho! Bahkan, kamu juga bisa mengajukan artikelmu ke halaman sindikasi untuk dipublikasi ulang oleh tim editorial C2live. Keren, kan?

Sumber gambar: Helen KantilaftisSplitShire, Captive InternationalStartup Stock PhotosQuinn DombrowskiExchangeWire.

Related Posts