Trinity the Naked Traveler

Alasan di Balik Keputusan Trinity untuk Pensiun Menulis Buku

Siapa, sih, yang tidak kenal dengan sosok Trinity? Blogger yang berhasil mempopulerkan dan disebut-sebut sebagai pionir travel blogging ini sudah berhasil menginspirasi banyak orang melalui tulisan-tulisan cerita pengalamannya dalam menjelajahi keanekaragaman dunia.

Tidak hanya itu, Trinity juga sukses menerbitkan deretan buku bertopik traveling. Hingga saat ini, tercatat sudah ada 14 buku yang ia terbitkan. Beberapa di antaranya merupakan bagian dari seri “The Naked Traveler” yang dikenal khas sebagai karyanya.

Lalu, dengan segudang pencapaian di bidang penulisan tersebut, beberapa hari lalu Trinity justru menyampaikan niatnya untuk pensiun menulis buku. Tentu, hal ini sontak mengundang kesedihan para penggemarnya. Namun, apa sebenarnya yang membuat sosok ini mengambil keputusan demikian?

Kondisi industri penerbitan yang kian memprihatinkan

Trinity the Naked Traveler

Melalui halaman blognya, Trinity menceritakan kondisi industri penerbitan masa kini yang sudah tidak sejaya dulu lagi. Dari koran hingga majalah, berbagai usaha penerbitan terpaksa gulung tikar karena demand yang terus menurun. Hal serupa juga terjadi pada industri penerbitan buku. Bagi seorang Trinity, ini merupakan kondisi yang membuatnya sedih.

Ia mengamati bahwa hari demi hari, toko buku satu per satu mulai tutup. Jikapun tidak tutup, paling tidak ruangannya diperkecil. Seakan kurang miris, walaupun mengaku sebagai toko buku, jumlah buku yang dijual justru kalah dengan produk-produk lain seperti tas, sepatu, sepeda, dan barang-barang lainnya. Lagi-lagi, hal ini juga disebabkan karena demand untuk penjualan non-buku lebih tinggi dan menguntungkan daripada demand penjualan buku itu sendiri.

Hal itu kemudian juga menjadi desakan tersendiri bagi para penerbit. Pasalnya, jumlah buku yang terbit hingga kini tetap berkembang, namun lahan yang disediakan untuk memajang buku semakin sempit. Ini menyebabkan persaingan antarpenerbit menjadi begitu ketat. Syukur jika buku sempat dipajang. Kalau tidak, dalam waktu tertentu, buku-buku tersebut akan langsung dikembalikan ke penerbit. Sebagai penulis buku, Trinity sangat menyayangkan hal ini. Apalagi, menurutnya, jangka waktu yang diberikan oleh toko buku untuk menampung buku-buku penerbit semakin memendek dari hari ke hari.

Minat pembaca masyarakat Indonesia

Trinity the Naked Traveler

Jadi, apa yang menyebabkan penurunan minat terhadap buku cetakan penerbit di kalangan masyarakat Indonesia? Apakah seiring digitalisasi, ketertarikan mereka mulai bergeser pada e-book? Menurut Trinity, tidak demikian juga. Pasalnya, royalti yang ia terima dari penjualan e-book-nya sejak lima tahun lalu juga tidak mengalami perubahan drastis. Karena itu, ia mengambil kesimpulan bahwa minat baca masyarakat Indonesia terhadap e-book juga tidak mengalami peningkatan.

Intinya, ia merasa supply dan demand untuk penerbitan buku kini sudah tidak seimbang. Setiap harinya, semakin banyak saja buku yang dipublikasikan oleh penerbit. Namun, jumlah ketertarikan terhadap buku kian berkurang. Tidak hanya itu, sejak memasuki era internet, attention span manusia pun semakin berkurang. Membaca buku kini sudah dianggap sebagai aktivitas yang melelahkan dan membosankan.

Hal itu bisa dilihat dari semakin populernya konten-konten dengan judul yang heboh, namun minim informasi di dalamnya. Bahkan saking menurunnya budaya membaca, orang-orang zaman sekarang juga lebih memilih untuk menanyakan informasi yang jelas-jelas sudah terpampang pada tulisan yang tertera.

Penurunan minat membaca yang sangat terasa ini kemudian berimbas pada para penulis seperti Trinity. Dengan semakin berkurangnya minat membaca dan membeli buku, royalti yang mereka terima pun juga semakin sedikit. Padahal, bagi seorang travel writer seperti Trinity, modal traveling-nya ia dapatkan dari royalti penjualan buku. Karena itu, kondisi ini kian memberatkannya sebagai penulis.

Baca juga: Writing Insight: Trinity, The Naked Traveler

Berbagai upaya dan pertimbangan lain pun telah dikerahkan

Trinity the Naked Traveler

Kita semua tahu bahwa Trinity memiliki semangat yang begitu besar dalam dunia traveling dan penulisan. Karena itu, menghadapi kondisi yang telah dipaparkan tadi, ia tidak serta-merta menyerah sejak awal. Mencoba mengikuti tren pasar yang ada, Trinity mengupayakan sebuah inovasi dengan menerbitkan buku berjudul “69 Cara Traveling Gratis” yang disasar untuk merangkul kaum milenial.

Sambutan yang didapat cukup baik, namun belum cukup untuk menambal lubang yang sudah terbentuk. Apalagi, pembagian royalti kerap melibatkan banyak tangan, sehingga hasil yang didapat tentu akan semakin sedikit. Lelah menghadapi tantangan berlapis yang sepertinya tidak membaik, Trinity merasa kini semangatnya meredup. Bahkan, ia kini mempertimbangkan untuk pensiun sebagai penulis.

Sebelum memantapkan hati, Trinity tentunya sudah mempertimbangkan berbagai hal. Ia kembali memikirkan karier sebagai pekerja kantoran dengan cuti terbatas atau bahkan menjadi selebgram untuk mempromosikan produk-produk endorse. Ternyata, membayangkan hal-hal tersebut sudah mampu membuat travel blogger kondang ini tertekan.

Di tengah pergumulan hatinya tersebut, Trinity justru mendapat beasiswa untuk Residensi Penulis 2018 di Peru pada awal September ini dari pemerintah Indonesia. Namun, ia percaya bahwa dirinya perlu melakukan apa yang memang perlu ia lakukan. Sebelum memberangkatkan diri, ia mendedikasikan diri untuk menyelesaikan buku “The Naked Traveler 8”. Tentu, seperti buku-buku “The Naked Traveler” lainnya, buku terbaru ini pun juga akan menjadi incaran para pecinta travel dan penggemar Trinity. Sayangnya, dengan berat hati, Trinity harus menyatakan bahwa buku tersebut akan menjadi buku terakhir dari seri ternama yang dimilikinya.


Bagaimana, Guys? Apakah kamu juga menjadi salah satu yang bersedih karena keputusan Trinity untuk pensiun sebagai penulis? Tentu, pengambilan keputusan ini tentu juga bukan merupakan sesuatu yang mudah bagi sosok Trinity sendiri. Namun, sebagai penggemar setia dan rekan blogger sejawat, kita perlu memberikan dukungan penuh untuk perjalanan karier Trinity ke depannya.

Berhenti menjadi penulis tidak serta-merta menutup jalan bagi Trinity untuk menginspirasi para penulis dan traveler lainnya, kok. Masih ada berbagai hal lain yang bisa dilakukan untuk memberikan semangat bagi diri dan orang lain. Terkait keputusannya untuk pensiun sebagai penulis, Trinity mengucapkan terima kasih kepada kalian para pembaca setianya. Setidaknya, Trinity sudah mengambil langkah baru untuk melanjutkan kehidupannya.

Bagaimana dengan dirimu? Adakah rencana yang sudah kamu tetapkan sebagai blogger?

Sumber gambar: trinitytraveler.

Related Posts

Site Menu